Deli Serdang [DESA MERDEKA] – Riuh rendah suara puluhan anak-anak memecah keheningan Kamis siang di Dusun 18, Desa Bagan Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Mereka berlarian kecil, saling mendahului, menyambut panggilan para relawan Rumah Edukasi Anak Pesisir (Redaksi) untuk memulai sesi belajar di sebuah pondok sederhana di tepi sungai. Tanpa komando, tangan-tangan mungil itu sigap mengambil meja lipat dan memilih tempat duduk beralaskan papan. Sementara itu, para relawan dengan cekatan mendirikan papan tulis dan menyiapkan alat tulis.
Suasana seketika menjadi khusyuk saat Atika Hasibuan, salah seorang relawan, mulai menuliskan soal matematika. “Siapa yang bisa menyelesaikan pertanyaan ini?” tanyanya, disambut acungan tangan beberapa anak yang antusias. Soal pun berhasil dijawab. Tak lama berselang, Fitri, relawan lainnya, sibuk membagikan beragam buku bacaan, mulai dari komik, buku kebudayaan, sejarah nusantara, hingga legenda rakyat Indonesia dan Vietnam.
“Kelas kami hanya berlangsung dua jam. Selama itu, kami mengajak anak-anak belajar berhitung, seni, berkreasi, dan yang terpenting, membaca,” ujar Atika di sela-sela kegiatan mengajarnya. Mahasiswi semester tiga ini menjelaskan bahwa meskipun banyak anak di Bagan Percut telah mengenyam pendidikan formal, hal itu dirasa belum cukup. Masih ada anak-anak yang belum sepenuhnya bersekolah atau memiliki kemampuan literasi yang rendah.

Inilah yang melatarbelakangi pendirian Rumah Edukasi Anak Pesisir, atau yang akrab disebut Redaksi. Tujuannya mulia: meningkatkan literasi dan kemampuan membaca anak-anak, khususnya di wilayah pesisir. “Banyak anak-anak di sini tingkat membacanya masih rendah. Ada yang sama sekali belum bisa membaca, ada juga yang putus sekolah. Salah satu penyebabnya, mereka lebih memilih bekerja mencari ikan bersama orang tua daripada belajar,” tutur perempuan berusia 20 tahun itu. Mirisnya, data Profil Anak Kabupaten Deli Serdang tahun 2022 mencatat 995 kasus buta aksara, dengan 95 kasus di antaranya berada di Kecamatan Percut Sei Tuan.
Perjuangan Atika, Fitri, dan seorang relawan lainnya, Nur Azizah, tentu tidak mudah. Telah tiga tahun mereka mendedikasikan diri, namun tantangan besar masih menghadang, terutama minimnya sumber daya relawan. “Kami masih kekurangan tenaga pengajar sukarela. Dengan jumlah anak yang kadang mencapai 100 orang, kami yang hanya berempat aktif sering kewalahan,” keluh Atika, yang juga merupakan warga asli Bagan Percut. Ia berharap lebih banyak pemuda tergerak hatinya untuk bergabung.
Namun, semangat mereka tak pernah padam. Mereka bertekad membuat anak-anak pesisir mencintai buku, rajin membaca, dan berani bermimpi besar. “Masih ada anak yang merasa minder karena latar belakang orang tua nelayan dengan ekonomi terbatas. Kami ingin mereka pandai membaca dan tidak buta huruf,” tambah Fitri. Sebagian buku mereka peroleh dari sumbangan Perpustakaan Indonesia.
Upaya ini mendapat respons positif dari warga. Farida (38), salah seorang ibu, merasa bersyukur. “Sejak ikut belajar di sini, nilai anak-anak saya di sekolah ada perubahan, jauh lebih bagus. Niat belajarnya juga meningkat,” ungkapnya. Untuk menjaga semangat belajar anak-anak, Redaksi sesekali mengajak mereka belajar di atas perahu menuju tepi laut. “Metode ini membuat hati anak-anak tenang dan segar,” pungkas Fitri. Rumah Edukasi Anak Pesisir menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukan halangan untuk menganyam asa demi masa depan generasi penerus bangsa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.