Batam, Kepulauan Riau [DESA MERDEKA] – Wajah desa di Indonesia kini tak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan diproyeksikan menjadi ujung tombak perdagangan internasional. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, secara ambisius menargetkan pembentukan 5.000 desa ekspor sebagai strategi utama mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan swasembada ekonomi dari pinggiran.
Visi besar ini disampaikan Yandri dalam forum dialog bersama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) di Batam, Selasa (20/1/2026). Ia menekankan bahwa untuk mencapai Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, kolaborasi antara pemerintah pusat dan para Bupati adalah harga mati.
“Kami tidak ingin bekerja sendiri. Setiap Bupati harus mampu memetakan potensi alam dan SDM di wilayahnya agar desa menjadi berdaya. Kami targetkan 5.000 desa mampu mengekspor produk lokalnya ke mancanegara,” tegas Yandri di hadapan para kepala daerah.

Koperasi Desa Merah Putih sebagai Mesin Ekonomi
Salah satu instrumen kunci yang diperkenalkan adalah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Berbeda dengan model koperasi konvensional, KDMP dirancang sebagai mesin ekonomi yang terintegrasi dengan BUMDesa untuk mengelola hilirisasi produk unggulan desa.
Strategi ini tidak hanya bertujuan untuk mengisi pasar nasional, tetapi juga menyiapkan produk desa agar kompetitif di level global. Dengan adanya KDMP, rantai distribusi yang selama ini merugikan petani dan pengrajin desa diharapkan bisa dipangkas, sehingga keuntungan ekonomi langsung mengalir ke kantong warga.
12 Aksi Prioritas: Bukan Sekadar Dana Desa
Yandri juga menggagas 12 Aksi Prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia. Program ini mencakup revitalisasi investasi melalui kemitraan dengan investor dalam dan luar negeri, swasembada pangan, hingga dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Yandri, swasembada pangan nasional akan sulit tercapai tanpa melibatkan desa sebagai basis produksi. Hilirisasi produk di tingkat desa akan memastikan bahan baku untuk program MBG tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar wilayah, melainkan diambil langsung dari hasil bumi masyarakat setempat.
“Jika masyarakat desa sejahtera dengan memaksimalkan potensi lokalnya, maka kemiskinan ekstrem akan hilang dengan sendirinya. Inilah esensi dari pemerataan ekonomi yang nyata,” tambahnya.

Mengubah Stigma Desa Tertinggal
Melalui dialog aktif dengan para Bupati, Kemendes PDT berupaya merespons kendala lapangan secara real-time. Kolaborasi ini mencakup pelibatan pihak swasta, NGO, dan kelompok masyarakat untuk menciptakan ekosistem investasi yang sehat di perdesaan. Transformasi ini diharapkan mengubah stigma desa dari kawasan tertinggal menjadi kawasan produktif yang menyokong ketahanan ekonomi nasional di masa depan.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.