Obi, Halmahera Selatan [DESA MERDEKA] — Pulau Obi selama ini dikenal sebagai “permata” bagi Kabupaten Halmahera Selatan dan Provinsi Maluku Utara. Sebagai wilayah dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, kontribusi Obi terhadap ekonomi daerah tidak perlu diragukan lagi. Namun, ironisme besar justru tampak di depan mata: infrastruktur jalan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat lokal kondisinya kian memprihatinkan.
Inisiatif Warga di Tengah Ketiadaan Perhatian
Merespons kondisi jalan yang rusak parah dan terbengkalai, pengurus Ikatan Avansa Bersatu (IKAB) Kecamatan Obi akhirnya mengambil langkah nyata. Pada Kamis (8/01/2026), organisasi ini secara swadaya melakukan aksi pembersihan dan penimbunan jalan yang menghubungkan Desa Anggai menuju Ibu Kota Kecamatan Obi.
Langkah ini diambil karena akses utama masyarakat tersebut kini dipenuhi lubang dan ditumbuhi rerumputan liar yang menutupi badan jalan. Mirisnya, aksi nyata ini tidak menggunakan anggaran negara, melainkan murni dari kas organisasi dan bahkan merogoh kocek pribadi para pengurus.
Harapan pada Pemda dan Pihak Perusahaan
Salah satu pengurus IKAB, Asbar Ali—yang akrab disapa Bais—menyatakan kegelisahannya atas minimnya kepedulian dari pemerintah daerah maupun pihak swasta yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Sangat disesalkan, hingga saat ini belum ada perhatian serius dari pihak manapun. Kami dari pengurus Ikatan Avansa Bersatu merasa resah melihat kebijakan pemerintah, bahkan pihak perusahaan di Pulau Obi yang seolah menutup mata,” ujar Bais dengan nada kecewa.
Menurut Bais, akses dari Desa Anggai menuju pusat kecamatan merupakan jalur vital bagi mobilitas warga, baik untuk urusan ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan. Ia menekankan bahwa masyarakat Obi, khususnya di pedesaan, berhak mendapatkan fasilitas jalan yang layak sebagai timbal balik atas kekayaan alam yang telah dikelola di tanah mereka.
Ultimatum di Momentum Politik
Persoalan infrastruktur ini tidak lagi dipandang sebagai masalah teknis semata, melainkan sudah menyentuh aspek kepercayaan masyarakat. Bais menegaskan, jika Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara tidak segera mengambil langkah konkret, masyarakat tidak akan tinggal diam.
“Jika pemerintah tidak secepatnya bertindak, maka dalam momentum politik mendatang, kami menyatakan sikap tegas. Kami akan menolak siapa pun yang datang dengan kepentingan politik di wilayah Kecamatan Obi jika persoalan dasar seperti jalan ini saja tidak mampu diselesaikan,” tegasnya.
Masyarakat Pulau Obi kini menanti pembuktian dari komitmen Pemerintah Daerah dan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan-perusahaan besar di sana. Perbaikan jalan Desa Anggai bukan sekadar proyek fisik, melainkan bentuk penghormatan terhadap martabat warga yang selama ini menjadi penopang kekayaan daerah.(*)

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.