Mancilan, Desa di Jombang, Simpan Kisah Keturunan Raja Mataram dan Makna Filosofis Nama
Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Desa Mancilan, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menyimpan jejak sejarah panjang yang erat kaitannya dengan figur-figur penting dari trah Kerajaan Mataram Islam dan Kesultanan Pajang. Salah satu narasi sentral dalam sejarah desa ini adalah peran Raden Bondan Kejawen atau Raden Alif—putra dari Raden Kerta Biyak Agung Sila (Pangeran Benowo), yang merupakan keturunan langsung dari Sultan Adi Wijoyo (Jaka Tingkir).
Raden Alif tercatat menjadi Adipati Wirosobo pada tahun 1801, dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, dan Jombang. Keberadaannya di wilayah tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan Mancilan di masa selanjutnya.
Misi Pengambilan Penghuni Hutan dan Asal Usul Dusun
Titik balik sejarah Mancilan terjadi pada tahun 1810, ketika datanglah utusan khusus dari Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Syeh Sayid Sulaiman Bin Abd Rohman Basyaibah. Syeh Sayid beserta rombongannya mengemban tugas berat dari Raja Mataram untuk mengambil “penghuni Hutan Larangan” yang konon berupa jin dan hewan liar.
Dengan bantuan Raden Alif, misi tersebut berhasil dituntaskan dalam waktu kurang lebih seratus hari, di mana semua penghuni hutan dimasukkan ke dalam sebuah bumbung. Kisah unik ini diperkuat dengan kedatangan utusan penyusul dari Kerajaan, yakni Patih Modo dan Tumenggung Honggo Kusumo. Meskipun utusan penyusul kembali ke Mataram tanpa Syeh Sayid, bumbung tersebut berhasil dibawa kembali, meskipun akhirnya dibanting di alun-alun Kerajaan.
Pada tahun 1811, utusan dari Mataram kembali datang dengan membawa pesan dari Raja yang menawarkan jabatan tinggi kepada Syeh Sayid. Namun, atas dorongan dari Raden Alif, semua utusan Mataram—termasuk Patih Modo, Tumenggung Honggo Kusumo, dan Syeh Sayid—memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Mereka mengakhiri hidup dan dimakamkan di Dusun Rejo Slamet. Dusun yang terletak paling utara dari empat dusun di Desa Mancilan inilah yang diyakini merupakan cikal bakal dari Desa Mancilan.
Filosofi Nama Desa: “Tidak Menurun”
Nama “Mancilan” sendiri memiliki akar filosofis yang kuat, yang diambil dari paduan dua kata dalam bahasa Arab, yaitu “MAA” dan “NAZZALA” (atau NAZZILA). Kata “MAA” berarti ‘tidak’, sedangkan “NAZZALA” atau “NAZZILA” berarti ‘menurun’.
Jika dirangkai, “MAA NAZZALA” secara harfiah berarti “Tidak Menurun”. Pemaknaan yang melekat pada nama ini adalah bahwa seluruh warga masyarakat Desa Mancilan dipahami sebagai pendatang atau keturunan dari pendatang, yang secara tidak langsung merujuk pada kisah para tokoh pendiri desa, seperti Syeh Sayid Sulaiman, Patih Modo, dan Tumenggung Honggo Kusumo, yang memilih untuk menetap dan tidak kembali (menurun) ke Kerajaan Mataram.
Sejarah ini menunjukkan Mancilan bukan hanya sekadar desa, tetapi juga perpaduan kisah heroik, spiritual, dan administrasi kerajaan yang membentuk identitasnya hingga kini.
NAMA : MUJI SLAMET
TTL : JOMBANG, 26 JULI 1977
PENDIDIKAN S1 STIE AL-ANWAR MOJOKERTO
LULUS TAHUN 2007
JURUSAN : EKONOMI MANAJEMEN


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.