Jakarta [DESA MERDEKA] – Mengubah pola pikir pemerintahan desa dari sekadar pengelola administrasi menjadi penggerak ekonomi bukanlah perkara mudah. Namun, melalui Lomba Desa dan Kelurahan (Lomdeskel) 2023, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencoba “memaksa” desa untuk berhenti sekadar menunggu instruksi dan mulai menggali potensi mandiri mereka.
Ajang tahunan ini bukan sekadar seremoni bagi-bagi piala. Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, Eko Prasetyanto Purnomo Putro, menegaskan bahwa Lomdeskel adalah instrumen untuk memicu adrenalin perangkat desa dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Targetnya jelas: terciptanya tata kelola pemerintahan yang efisien demi mendongkrak kualitas hidup masyarakat di level akar rumput.
“Maksud lomba ini adalah mendorong motivasi pemerintah desa dan kelurahan untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Dengan tata kelola yang efektif, peningkatan aspek sosial dan ekonomi warga akan tercapai,” ujar Eko dalam keterangan pers di Jakarta.
Kolaborasi Global untuk Kemandirian Lokal
Sudut pandang menarik dari perhelatan tahun ini adalah keterlibatan Bank Dunia (World Bank). Lomdeskel 2023 merupakan bagian dari Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD), sebuah kolaborasi strategis antara Pemerintah Indonesia dan lembaga internasional tersebut. Hal ini menandakan bahwa standar pembangunan desa kita kini sedang didorong menuju parameter global, di mana transparansi dan akuntabilitas menjadi poin penilaian utama.
Proses seleksi dilakukan secara ketat melalui empat tahapan: administrasi, klarifikasi lapangan, pemaparan calon juara, hingga penetapan pemenang. Eko menyebutkan, saat ini telah terjaring masing-masing 12 desa dan kelurahan terbaik yang berhasil lolos ke tahap pemaparan setelah melewati verifikasi lapangan yang sangat detail.
Inilah 24 Nominasi “Bintang” Desa dan Kelurahan
Sebanyak 12 desa yang masuk bursa juara antara lain: Desa Pujokerto, Mane Tunong, Koto Mesjid, Tegal Harum, Logandeng, Cinta, Labanan Makarti, Bombanon, Jawai Laut, Banjar Ausoy, Blang Merang, dan Semparu.
Sementara itu, 12 kelurahan yang bersaing di tahap akhir meliputi: Kelurahan Yosorejo, Balai Jaring, Laksamana, Cisauk, Pegangsaan Dua, Sukamiskin, Ketapang, Karang Rejo, Maccini Sombala, Danaweria, Bobo, dan Lewirato.
Pencapaian para nominator ini membuktikan bahwa dengan instrumen evaluasi yang tepat, desa mampu mengidentifikasi masalahnya sendiri dan mencari solusi pembangunan yang berkelanjutan tanpa harus selalu bergantung penuh pada suntikan dana pusat.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.