Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

DESA · 26 Mar 2025 14:58 WIB ·

Lebaran Suram di Seram Timur Akibat Dana Desa Macet


					Lebaran Suram di Seram Timur Akibat Dana Desa Macet Perbesar

Seram Bagian Timur, Maluku [DESA MERDEKA] Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah yang seharusnya disambut dengan sukacita, kini terancam menjadi momen penuh keprihatinan bagi masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Ironisnya, krisis ekonomi yang mencekik warga di penghujung Maret 2025 ini bukan disebabkan oleh gagal panen, melainkan akibat mandeknya pencairan Dana Desa (DD) tahap pertama oleh pemerintah daerah.

Keterlambatan ini menciptakan efek domino yang menyakitkan. Ribuan warga penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) kini terkatung-katung tanpa kepastian, sementara para aparat desa yang menjadi ujung tombak pelayanan publik terpaksa gigit jari karena honor mereka tak kunjung cair. Di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran, macetnya aliran dana ini dianggap sebagai “kado pahit” dari birokrasi.

Janji Manis yang Menguap
Aktivis HMI, Ayub Rumbaru, menyoroti betapa krusialnya dana tersebut bagi ketahanan pangan dan pemenuhan kewajiban agama warga desa. “Masyarakat sangat membutuhkan dana untuk zakat fitrah hingga kebutuhan dapur. Tanpa pencairan DD, banyak keluarga di SBT yang kesulitan hanya untuk sekadar bertahan hidup di hari raya,” tegasnya.

Padahal, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PMD & PPA) sebelumnya telah menebar harapan. Kepala Dinas PMD & PPA, Ridwan Rumonin, sempat menargetkan verifikasi APBDes tuntas sehingga pencairan bisa dilakukan pada akhir Februari atau paling lambat awal Maret 2025. Namun, hingga memasuki pekan-pekan krusial jelang Idulfitri, janji tersebut terbukti meleset dan tidak terealisasi di lapangan.

Birokrasi vs Kebutuhan Perut
Salah seorang warga Desa Airnanang mengungkapkan kegelisahannya atas ketidakjelasan ini. Baginya dan warga desa lainnya, Dana Desa bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan napas ekonomi untuk menutupi biaya operasional rumah tangga yang membengkak saat hari raya.

Kegagalan Pemkab SBT dalam menepati jadwal pencairan menunjukkan adanya celah koordinasi yang serius. Masyarakat kini mendesak pemerintah kabupaten untuk berhenti berwacana dan segera mengambil tindakan darurat. Jika tidak segera dicairkan, Idulfitri 1446 H di Seram Bagian Timur hanya akan menyisakan cerita tentang dapur yang tidak mengepul dan hak-hak masyarakat yang tersandera meja birokrasi.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BUMDes Merbau Mataram “Naik Kelas” Lewat Digitalisasi Laporan Keuangan

12 Februari 2026 - 12:20 WIB

Desa Jadi Benteng Terakhir Penyelamat 66 Pesut Mahakam

11 Februari 2026 - 20:52 WIB

Drainase Mampet, Warga Wederok Malaka Tagih Solusi Deker

10 Februari 2026 - 19:34 WIB

Sultan Sambaliung Turun Tangan, Desak Patok Fisik Batas Kampung

10 Februari 2026 - 08:03 WIB

Huta Simarmata: Desa Kuno Samosir Menuju Cagar Budaya Nasional

9 Februari 2026 - 20:18 WIB

Referendum Rakyat: Faidil Wiranda Kembali Pimpin Mesjid Guci Rumpong

9 Februari 2026 - 14:06 WIB

Trending di DESA