Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 8 Agu 2025 07:28 WIB ·

Labkesmas Rp13 Miliar : Bukan Janji Kampanye , Bukan Kebutuhan Mendesak


					Labkesmas Rp13 Miliar : Bukan Janji Kampanye , Bukan Kebutuhan Mendesak Perbesar

Pemerintah Kabupaten Muna Barat baru saja memulai pembangunan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Desa Nihi, Kecamatan Sawerigadi, dengan anggaran senilai Rp13 miliar. Bupati La Ode Darwin menyatakan bahwa pembangunan ini bertujuan mendekatkan layanan laboratorium kesehatan kepada masyarakat. Namun publik berhak bertanya: benarkah ini adalah kebutuhan paling mendesak masyarakat Muna Barat saat ini?

Yang lebih mengkhawatirkan, pembangunan Labkesmas ini tidak pernah menjadi bagian dari visi-misi kampanye Bupati Darwin. Tidak satu pun pidato, dokumen resmi, atau RPJMD yang mencantumkan laboratorium sebagai prioritas pembangunan kesehatan. Maka pertanyaannya jelas: jika bukan janji kepada rakyat, lalu siapa yang mengarahkan proyek ini?

Sementara proyek mewah dibangun, tiga wilayah besar di Muna Barat—wilayah Lawa Raya, Tiworo Raya, dan Kusambi Raya, masih kekurangan fasilitas puskesmas yang layak, belum semua memiliki ambulans yang siap pakai, dan layanan dokter keliling nyaris tidak berjalan. Banyak masyarakat di pesisir dan kampung- kampung harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan layanan dasar kesehatan. Apakah tidak lebih logis jika anggaran Rp13 miliar itu dialokasikan untuk pengadaan ambulans, penguatan dokter keliling, dan rehabilitasi fasilitas puskesmas yang rusak?

Lebih ironis lagi, Pemkab mengakui bahwa tenaga laboran untuk Labkesmas belum tersedia dan bahkan akan disekolahkan terlebih dahulu. Ini adalah bentuk pembangunan yang membalik logika dasar pelayanan publik: gedung dibangun dulu, SDM-nya dipikirkan kemudian. Di mana nalar perencanaannya?

Alasan pemilihan lokasi Labkesmas di Desa Nihi  karena “berdekatan dengan gudang farmasi” juga tidak dapat dibenarkan secara perencanaan kebijakan publik. Penempatan fasilitas kesehatan harus didasarkan pada analisis sebaran kebutuhan masyarakat dan kemudahan akses, bukan kedekatan bangunan secara fisik. Kesehatan bukan soal bangunan, tapi soal pelayanan.

Sebagai Pemerhati Kebijakan Publik di Muna Barat, saya melihat proyek ini sebagai cermin dari hilangnya arah pembangunan. Pemerintah seperti kehilangan fokus terhadap kebutuhan dasar rakyat, dan malah tergoda membangun proyek fisik yang tampak “wah” tapi tidak menyentuh masalah sesungguhnya.

Kami menilai, jika orientasi pembangunan seperti ini terus dibiarkan, maka akan muncul banyak “bangunan kosong” yang hanya menambah beban APBD di masa depan, karena tidak terintegrasi dalam pelayanan. Kami mendesak Pemkab Darwin untuk mengevaluasi total kebijakan bidang kesehatan dan mengembalikannya ke rel visi-misi yang pernah dijanjikan kepada rakyat.

Rakyat Muna Barat tidak butuh simbol. Rakyat butuh sistem layanan yang konkret, puskesmas yang berfungsi, ambulans yang tersedia, dan tenaga kesehatan yang hadir di tengah masyarakat, bukan bangunan megah yang sunyi dan sepi manfaat.

Oleh: LM Junaim (Pemerhati Kebijakan Publik Muna Barat)

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 263 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Merdeka Energi: Pecahkan Kutukan Enklave, Saatnya Anak Desa Jadi CEO

3 September 2026 - 06:16 WIB

Saat Jurnalisme Desa Naik Kelas Lewat Depth News

1 September 2026 - 06:22 WIB

Cara Akar Rumput Lawan Proyek Pelatihan BUMDes

28 Agustus 2026 - 15:41 WIB

Sisi Gelap Regulasi Publikasi BUM Desa 2026

27 Agustus 2026 - 08:45 WIB

Ironi MonevDD: Target Input 100 Persen, Pengetahuan Nol

23 Agustus 2026 - 09:41 WIB

Monev DD 2026

Garam Sambas ke Supermarket: Ambisi Kosmetik Abaikan Sains

22 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Trending di OPINI