Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

PENDIDIKAN · 11 Feb 2026 06:07 WIB ·

Kritik Keras Paramadina: PTN Kini Jadi Industri Kursus Massal


					Kritik Keras Paramadina: PTN Kini Jadi Industri Kursus Massal Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, PhD, melempar “bom” kritik dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi X DPR RI, Selasa (10/2/2026). Beliau menyebut kebijakan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) telah menciptakan distorsi fatal, di mana kampus negeri ternama kini lebih menyerupai “industri kursus kuliah massal” ketimbang pusat riset kelas dunia.

Pemicu utamanya adalah desakan bagi PTN untuk mencari pendanaan mandiri demi menutupi biaya operasional. Akibatnya, terjadi ledakan kuota mahasiswa baru yang tidak masuk akal. Sebagai contoh, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tercatat menerima 26 ribu mahasiswa dalam setahun, sementara raksasa seperti UGM dan UB menerima sekitar 18 ribu orang.

Kualitas Tergerus Kuantitas
Prof. Didik membandingkan anomali ini dengan standar global. Kampus elit seperti Harvard hanya mengelola sekitar 23 ribu mahasiswa untuk menjaga kualitas, sementara PTN di Indonesia justru membengkak hingga kapasitas 60 ribu sampai 80 ribu orang.

“Sangat sulit bagi bangsa ini mendorong universitasnya unggul dalam riset jika kampus hanya menjadi teaching university yang mengeruk pendapatan dari mahasiswa sebanyak mungkin,” tegas Prof. Didik. Dampaknya nyata: hingga saat ini belum ada satu pun kampus Indonesia yang mampu menembus peringkat 100 besar dunia, tertinggal jauh dari Singapura (NUS dan NTU) yang bertengger di jajaran elit 20 besar global.

Ancaman Bagi Kampus Swasta dan Masyarakat Sipil
Kebijakan negara yang membiarkan PTN menyedot jutaan mahasiswa dinilai menciptakan persaingan tidak sehat yang mematikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan masyarakat sipil justru terpinggirkan oleh dominasi negara.

Jika tren ini berlanjut, Indonesia terancam memiliki PTN yang besar secara jumlah namun “biasa saja” secara kualitas, sementara banyak PTS akan kolaps karena kehilangan calon mahasiswa.

Solusi: Kembalikan Kampus ke Jalur Riset
Untuk menyelamatkan masa depan pendidikan, Prof. Didik menawarkan langkah radikal:

  • Penetapan Student Cap: Membatasi jumlah mahasiswa S1 di PTN flagship untuk menjaga selektivitas.
  • Transformasi Riset: Mengalihkan fokus PTN ke program pascasarjana (S2, S3) dan postdoktoral.
  • Insentif untuk Swasta: Memberikan insentif fiskal dan matching fund bagi PTS agar menjadi penopang angka partisipasi nasional.
  • Reformasi Dosen: Mengutamakan publikasi riset dan paten ketimbang mengejar jabatan struktural.

Tanpa koreksi struktural, pendidikan tinggi Indonesia hanya akan menjadi mesin pencetak ijazah tanpa daya inovasi yang mampu menggerakkan ekonomi nasional.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Mencetak Generasi Kritis: Investasi Karakter dari Akar Rumput

10 Mei 2026 - 21:25 WIB

Hardiknas di Wonosalam: Saat Aparat Patungan Demi Sepatu Siswa

7 Mei 2026 - 21:24 WIB

Rumus Kepercayaan Anies Baswedan: Senjata Pemuda Membangun Desa

7 Mei 2026 - 13:03 WIB

Ijon Proyek Pendidikan : Benalu Baru di Sekolah Desa Bekasi

5 Mei 2026 - 09:42 WIB

BRI Peduli Gelar Kelas Inspirasi, Bagikan Alat Tulis ke Siswa SDN 104 Langensari Bandung

4 Mei 2026 - 09:18 WIB

Matikan TV Jauhkan Gawai: Budaya Baru Desa Banjaran

4 Mei 2026 - 05:15 WIB

Trending di PENDIDIKAN