Ngobrol Desa Edisi ke-73 [DESA MERDEKA] – Dalam era digital yang serba cepat, kebutuhan akan narasi alternatif yang jujur, kontekstual, dan berasal dari akar rumput menjadi semakin penting. Salah satu jawaban terhadap kebutuhan ini hadir dalam bentuk Kompasiana Desa, sebuah komunitas menulis yang diinisiasi oleh para pegiat desa untuk mengangkat isu-isu perdesaan secara kritis, reflektif, dan inspiratif. Dalam forum “Ngobrol Desa” edisi kelima, Suryokoco dari KODE Indonesia memaparkan secara mendalam tentang latar belakang, tujuan, serta strategi penguatan komunitas Kompasiana Desa.
Membaca Desa dari Desa
Kompasiana Desa bukan sekadar kanal berbagi tulisan, tetapi merupakan ekosistem narasi yang dirancang untuk membangun representasi desa di ruang publik digital. Selama ini, isu-isu perdesaan lebih banyak dibicarakan dari sudut pandang luar — birokratik, teknokratis, atau bahkan urban-sentris. Melalui Kompasiana Desa, narasi tentang desa didorong untuk lahir langsung dari warga desa, pendamping desa, kepala desa, BPD, hingga pegiat komunitas desa.
Dengan menulis di platform Kompasiana dan menggunakan tagar atau judul bertuliskan “Kompasiana Desa”, setiap penulis secara otomatis menjadi bagian dari komunitas ini. Dari sini, tulisan-tulisan tersebut akan dipantau, dikurasi, dan dipublikasikan ulang ke kanal komunitas yang lebih luas seperti channel Telegram Kompasiana Desa yang telah memiliki lebih dari 1000 pengikut.
Literasi dan Kolaborasi: Kekuatan Komunitas
Salah satu kekuatan utama dari Kompasiana Desa terletak pada pendekatan berbasis komunitas. Dalam paparannya, Suryokoco menekankan pentingnya interaksi antaranggota, bukan sekadar berbagi tautan tulisan. Menyukai, mengomentari, dan membagikan tulisan sesama anggota komunitas merupakan bentuk dukungan nyata untuk memperkuat gerakan literasi desa ini.
Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa tulisan yang dibagikan di grup komunitas Kompasiana Desa harus menyertakan tagar atau judul “Kompasiana Desa” agar dapat disebarluaskan lewat kanal publik resmi. Hal ini bukan semata-mata demi ketertiban administrasi, tetapi untuk memastikan bahwa komunitas ini tetap fokus pada visinya: mengangkat isu-isu perdesaan secara kolektif dan terorganisir.
Narasi Desa, Bukan Promosi Diri
Dalam komunitas ini, kualitas tulisan dinilai bukan dari panjang pendeknya, melainkan dari relevansi, refleksi, dan kontribusinya terhadap perbincangan seputar desa. Tulisan yang membahas praktik baik BUMDes, kritik kebijakan pemerintah desa, cerita inspiratif pendampingan, atau pengalaman unik dalam program desa menjadi contoh konten yang diharapkan.
Suryokoco menyampaikan bahwa dalam Kompasiana Desa, tidak ada tempat untuk promosi diri semata atau artikel “asal repost”. Komunitas ini mengajak anggotanya untuk menulis secara otentik — menghadirkan suara desa dari pelaku langsung, bukan kutipan-kutipan laporan proyek atau potongan kebijakan dari atas.
Membangun Jejak Digital Desa
Mengapa penting menulis dan mengarsipkan isu desa di ruang digital? Suryokoco mengilustrasikan bahwa saat kita mencari kata kunci “desa” atau “Kompasiana Desa” di Google, kita akan menemukan jejak digital berupa artikel, komentar, dan percakapan yang membentuk wacana. Di sinilah pentingnya setiap anggota komunitas untuk aktif menulis, memberi tagar, dan memperluas distribusi.
Lebih dari itu, gerakan ini juga berfungsi sebagai alat dokumentasi kolektif. Apa yang tidak tertulis, akan hilang dari sejarah. Dan jika desa tidak menulis tentang dirinya sendiri, maka sejarah desa akan ditulis oleh orang lain — sering kali dengan bias yang keliru.
Representasi Adalah Kedaulatan
Forum ini juga menyinggung potensi jangka panjang dari komunitas Kompasiana Desa, salah satunya untuk memperkuat posisi tawar desa dalam arena kebijakan nasional. Ketika isu-isu lokal desa terdokumentasi secara luas dan mendapat perhatian publik, maka desa memiliki landasan yang kuat untuk membangun jaringan solidaritas, advokasi kebijakan, bahkan pengaruh politik.
Karena itu, Suryokoco mengajak para penulis di komunitas untuk menggunakan identitas asli dan profil yang jelas. Nama asli, foto wajah, dan lokasi asal menjadi bagian penting dari proses membumikan narasi desa — bukan sekadar anonim yang menyebarkan opini, tetapi manusia nyata yang hidup dan bekerja di desa.
Penutup: Saatnya Menulis, Saatnya Memuliakan Desa
Kompasiana Desa bukanlah gerakan sesaat. Ia adalah upaya berkelanjutan untuk menjadikan desa sebagai subjek, bukan objek. Menulis adalah langkah kecil namun bermakna dalam upaya memuliakan desa. Ketika semakin banyak pegiat desa yang menulis, membaca, dan berinteraksi melalui narasi digital, maka desa sedang menegaskan eksistensinya sebagai pusat peradaban, bukan pinggiran.
Bagi siapa pun yang peduli pada masa depan desa, Kompasiana Desa adalah rumah bersama. Mari menulis, mari memuliakan desa.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.