Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan [DESA MERDEKA] – Desa Tempirai, yang terletak di Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, mendadak lebih hangat dari biasanya. Alih-alih formalitas kaku, suasana di desa yang dikenal dengan topografi datar dengan dominasi lahan pertanian ini berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Warga dari berbagai kalangan duduk bersama aparat kepolisian dalam agenda “Jumat Curhat” pada Jumat (22/12/2023), sebuah wadah di mana setiap keluhan warga didengar langsung oleh Polsek Penukal Utara.
Kapolsek Penukal Utara, IPTU Fredy Franse Triwahyudi, menegaskan bahwa kehadiran polisi bukan sekadar simbol otoritas, melainkan mitra bagi masyarakat desa. Program Jumat Curhat hadir untuk meruntuhkan sekat antara seragam dan realitas sosial di lapangan. Bagi warga Tempirai, forum ini menjadi kesempatan emas untuk menyampaikan masukan terkait kinerja polisi maupun persoalan Kamtibmas yang sering luput dari radar.
“Kami tidak hanya datang untuk menghimbau, tapi untuk memastikan setiap warga merasa terlindungi,” ujar IPTU Fredy.
Ia menegaskan bahwa pintu Polsek Penukal Utara terbuka 24 jam. Jika warga menemui kendala di lapangan, bantuan akan segera disalurkan. Komitmen ini menjadi krusial, terutama bagi masyarakat desa yang kerap kesulitan mengakses jalur birokrasi keamanan.
Di tengah tensi politik yang mulai merangkak naik menyongsong Pemilu, Kapolsek juga memberikan catatan penting: menjaga persatuan desa. Ia mengingatkan warga Tempirai agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Desa yang harmonis adalah modal utama agar pembangunan tidak terhambat oleh konflik horizontal yang dipicu oleh perbedaan pilihan politik.
Geografis PALI yang kaya akan sumber daya alam, khususnya minyak dan gas, menuntut ketenangan ekstra agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu. Melalui dialog interaktif ini, potensi gangguan keamanan diharapkan bisa dideteksi sedini mungkin. Jumat Curhat bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan upaya sistematis untuk merawat “kerukunan” sebagai aset terbesar Desa Tempirai. Dengan sinergi yang terbangun, harapan untuk desa yang lebih aman, kondusif, dan maju bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang bisa dikejar bersama.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.