Beberapa bulan sesudah Upacara Kabut, lembah itu seperti seorang tua yang kembali menemukan semangat mudanya. Sungai mengalir jernih, walau tak lagi riang seperti dahulu. Pohon-pohon kopi menumbuhkan pucuk hijau yang lembut, dan tanah basah mengirimkan bau kehidupan—bau yang hanya dipahami oleh mereka yang lama bersahabat dengan alam. Jejaring Embun telah membuka mata dunia pada lembah kecil itu. Kopi, tenun, dan ukiran kayu menyeberangi jarak, masuk ke kota-kota jauh yang namanya tak pernah disebut oleh para leluhur.
Warga tersenyum melihat nama lembah mereka terpampang di layar kecil yang bercahaya. Seakan-akan dunia kini mengetuk pintu rumah mereka.
Namun Raka, yang menyaksikan semua itu dengan hati yang bersyukur, diam-diam merasa ada sesuatu yang goyah. Dalam kegembiraan manusia, sering kali ada keluh alam yang tak terdengar.
“Air sungai makin surut,” kata Pak Tanu, petani tua yang wajahnya telah lama dibaca matahari. “Padahal hujan belum benar-benar pergi.”
Raka menatap aliran sungai itu. Dahulu ia bernyanyi di antara batu-batu, kini hanya berbisik pelan. Ia menuliskan kegelisahan itu dalam buku kecilnya. Ilmu boleh datang dari sekolah tinggi, tetapi firasat sering lahir dari keheningan.
Tak lama kemudian kabar itu sampai: dari hulu, izin telah turun. Bendungan kecil, tambang batu kapur. Janji-janji kemajuan pun mengalir lebih deras daripada air sungai—pekerjaan, listrik murah, jalan yang lebih lebar. Sebagian warga menyambut dengan mata berbinar. “Inilah zaman maju, Raka,” kata seorang pemuda. “Kita tak bisa hidup dari doa saja.”
Raka tersenyum pahit. Ia tahu, kemajuan yang hanya menghitung untung sering lupa menghitung kehilangan.
Sari, yang kini mengajar anak-anak desa, menemukan kegelisahan itu di lembar naskah lama yang ia salin. Sebaris kalimat seakan bergetar di tangannya: “Bila air berhenti bernyanyi, dengarlah ratap bumi.”
Sore itu mereka berjalan ke hulu. Kabut turun seperti biasa, tetapi tak lagi ramah. Bukit-bukit tampak terluka, tanah terkelupas, truk-truk melintas membawa batu seolah membawa usia lembah itu pergi. Air sungai keluar dari celah batu dengan warna yang tak dikenal.
“Jejaring kita membangunkan desa,” kata Sari perlahan, “tetapi jangan-jangan juga membangunkan nafsu manusia.”
Raka mengumpulkan warga di balai desa. Kata-katanya tenang, namun tegas. “Kita tidak memusuhi pembangunan,” ujarnya. “Tetapi jika air hilang, sawah mati, dan kehidupan berhenti, apa arti listrik dan jalan lebar itu?” Sebagian mengangguk, sebagian bimbang. Kemajuan memang sering datang membawa dilema: antara perut hari ini dan masa depan anak cucu.
Pak Ranu, tetua lembah, berdiri membawa Pusaka Embun. Suaranya pelan, tetapi meresap. “Air adalah napas lembah. Siapa yang memenjarakannya, memenjarakan kehidupan.” Tak ada yang membantah. Kebenaran kadang tidak perlu teriak.
Malam itu Raka menulis surat—kepada pemerintah, kepada mereka yang masih mau mendengar suara bumi. Mahasiswa datang, penelitian dilakukan, mata air dipetakan. Sari menulis kisah lembah itu ke dunia maya. Sebuah cerita kecil menantang arus besar.
Tekanan pun datang. Tawaran kerja sama, dana tambahan, dan syarat yang halus: jangan terlalu ribut soal air. Raka menolak. Ia tahu, tidak semua rezeki patut diterima jika menuntut pengkhianatan pada nurani.
Tak lama berselang, longsor kecil terjadi. Lumpur menutup sawah, kebun kopi rusak, dan sungai berubah kelabu. Warga panik. Di bawah langit muram, Sari menggenggam air itu dan berbisik, “Air berhenti bernyanyi.”
Dari musibah lahir kesadaran. Warga menanam pohon, membangun tanggul sederhana, dan bersuara bersama. Media menyorot, izin ditinjau ulang. Ketika keputusan diumumkan, hujan turun perlahan—seolah langit ikut bernapas lega.
Di tepi sungai, Sari menuangkan setetes air ke dalam Pusaka Embun. “Air ini tak sejernih dulu,” katanya. Raka mengangguk. “Tetapi ia masih hidup. Dan tugas kita bukan meratapi masa lalu, melainkan menjaga hari depan.”
Malam itu lembah kembali sunyi. Sungai mengalir pelan, seperti napas yang disadari kembali. Dan dalam cawan perak itu, embun pertama jatuh, memantulkan cahaya bulan—seakan berpesan: selama manusia ingat pada air, kehidupan takkan benar-benar pergi.(DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.