Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 7 Mei 2023 20:52 WIB ·

Jatidiri Salassae, Kepingan Sejarah Lampau Yang Mencuat Ke Masa Kini


					Jatidiri Salassae, Kepingan Sejarah Lampau Yang Mencuat Ke Masa Kini Perbesar

Bulukumba [DESA MERDEKA] – Desa Salassae di Kecamatan Bulukumpa, kini memang lebih dikenal sebagai basis aktifitas tradisi pertanian alami atau natural farming di Kabupaten Bulukumba. Namun sejatinya, Salassae memiliki akar sejarah yang berasal jauh sampai ke masa silam, ketika wilayah Salassae kini, masih menjadi wilayah pusat kerajaan, yang dikenal sebagai Bulukumpa Toa.

Kini, Salasse menjelma menjadi sebuah desa di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba, yang berada di bentang wilayah dengan luas 917 Ha atau 9,17 KM2 persegi. Lima dusun yang merupakan bagian dari Desa Salassae, yaitu Maremme, Bonto Tangga, Batu Tujua, Bolongnge, dan Batu Hulang, memiliki catatan sejarah yang masa silam yang sangat berharga.

“Di kawasan itu terdapat 7 buah batu bersejarah. Tujuh batu itu menjadi tempat pelantikan raja-raja kecil dan masa gallarang dalam wilayah Bulukumpa Toa,” tutur Gito Sukamdani, Kepala Desa Salassae, saat memaparkan tentang penamaan Dusun Batu Tujua, yang diambil dari situs budaya Batu Tujua atau Batu Pallantikang.

Gito Sukamdani juga mengungkapkan, tradisi pelantikan perangkat desa pelaksana Kewilayahan Dusun Batu Tujua yang ditempatkan di cagar budaya Batu Pallantikang untuk mengembalikan identitas Desa Salassae atau dulu yang dikenal sebagai Bulukumpa Toa.

“Tradisi itu kembali kita hidupkan agar generasi sekarang dan mendatang tetap mengenal sejarah kampungnya,” harap Gito Sukamdani.

Gito tak sekedar berucap. Untuk pertama kalinya di zaman modern, pada Senin,12 April 2021 silam, Kadus Batu Tujua, Sapri, dilantik di cagar budaya Batu Tujua atau Batu Pallantikang. Mengulang kembali kebiasaan lampau, saat pemerintahan kerajaan Bulukumpa Toa, melantik para raja-raja kecil atau gallarang ataupun berunding untuk memutuskan sesuatu, di tujuh batu berbentuk lempengan sebagai tempat duduk, yang dikenal sebagai Batu Pallantikang.

Tujuh batu bersejarah itu tetap melingkar di sana, di sebuah dusun yang diberi nama Dusun Batu Tujua, yang berarti tujuh batu. Menguatkan akar sejarah Desa Salassae, sehingga mampu mengantarkan warganya, mendulang prestasi dan menorehkan kebanggaan, untuk desanya.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 420 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat

30 Juni 2026 - 12:30 WIB

Trending di RAGAM