Bulukumba, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Desa Dwitiro tidak sedang sekadar menggelar lomba. Penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Masjid Jami Taqwa Salu-salu, Sabtu lalu, menjadi bukti nyata bagaimana sebuah desa kecil di Kecamatan Bontotiro ini sedang berinvestasi pada kualitas mental generasi mudanya.
Bagi Kepala Desa Dwitiro, Muhammad Carda, kemeriahan MTQ tahun ini adalah sinyal positif. Di tengah gempuran distraksi digital, antusiasme peserta dari berbagai dusun menunjukkan bahwa syiar Al-Qur’an masih menjadi magnet kuat bagi anak-anak dan remaja di desanya.
“MTQ ini bukan sekadar mengejar piala. Ini adalah wadah pembinaan agar generasi muda kita memiliki kompas nilai yang jelas di masa depan,” tegas Carda.
Al-Qur’an Sebagai Panduan Hidup, Bukan Sekadar Lantunan
Momen penutupan yang bertepatan dengan peringatan malam Nuzulul Qur’an ini dipertegas dengan tausiyah dari Syarifuddin. Ia menantang jamaah untuk melangkah lebih jauh: tidak hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga berani mengamalkannya dalam urusan sosial dan keseharian.
Ia menekankan bahwa keberhasilan MTQ yang sesungguhnya diukur dari perubahan perilaku masyarakat pasca-lomba, bukan hanya dari indahnya suara para pemenang. Al-Qur’an diposisikan sebagai “buku manual” kehidupan yang harus dipahami isinya secara mendalam.
Apresiasi untuk Para Pejuang Literasi Religi
Acara puncaknya adalah pengumuman juara dari berbagai kategori, mulai dari anak-anak hingga remaja. Penghargaan yang diberikan panitia bukan hanya simbol kemenangan, melainkan bentuk apresiasi atas ketekunan mereka mempelajari literasi religi.
Pemerintah desa berharap, melalui MTQ ini, hubungan sosial antarwarga semakin erat. Desa Dwitiro ingin membuktikan bahwa kekuatan spiritual bisa menjadi perekat persatuan desa sekaligus fondasi pembangunan karakter manusia yang unggul.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.