Tanah Datar, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Aroma gulai kikil dan asam padeh kembali mengepul dari dapur Rumah Makan Elok Basamo. Di sudut meja, beberapa sopir truk ekspedisi tampak lahap menyantap hidangan, diselingi tawa ringan setelah perjalanan jauh melintasi perbatasan Tanah Datar dan Sijunjung.
Bagi It (60), sang pemilik rumah makan, pemandangan ini adalah kemewahan yang sempat hilang selama 45 hari. Sejak banjir bandang menerjang pada 20 Mei 2026 dan memutus total jembatan utama, dapurnya mendadak dingin. Warungnya sepi, persis seperti mati suri.
Namun, sejak 9 Juli 2026, denyut nadi itu berdetak kembali. Sebuah jembatan rangka baja portabel—dikenal sebagai Jembatan Bailey—kini membentang kokoh sepanjang 42 meter di atas sungai. Jembatan darurat ini menjadi pahlawan yang menyambung kembali urat nadi ekonomi warga nagari.
Berputar Lebih Jauh dari Jarak Biasa
Selama satu setengah bulan, warga di perbatasan dua kabupaten ini seperti dipaksa hidup dalam isolasi. Jalur pintas yang biasanya hanya memakan waktu beberapa menit berubah menjadi perjalanan melelahkan. Warga harus memutar sejauh 20 kilometer melintasi rute Kumani hingga Lintau.
Bagi anak sekolah dan mahasiswa, rute memutar ini adalah mimpi buruk harian yang menguras kantong dan energi. Bagi para peternak ayam petelur dan petani karet di Nagari Taluk, putusnya jalur berarti petaka logistik.
“Perekonomian masyarakat praktis lumpuh. Banyak pelaku UMKM memilih menutup usahanya,” kenang Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil. Karet tak bisa dijual, telur-telur tertahan, dan modal warga pelan-pelan terkikis.
Gerak Cepat Dana TKD
Titik balik itu datang lewat pemanfaatan dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp4,9 miliar oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Alokasi ini menjadi instrumen penyelamat yang digulirkan cepat di bawah instruksi Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy.
Proses perakitannya tergolong fantastis. Setelah pondasi tapak (abutment) selesai dikerjakan secara swakelola, struktur utama Jembatan Bailey hanya butuh waktu tiga hari untuk berdiri. Mulai dirakit pada 6 Juli, jembatan ini sudah bisa dilalui kendaraan pada 9 Juli.
“Meski bersifat sementara sembari menunggu jembatan permanen senilai Rp25 miliar, Jembatan Bailey ini mampu menahan beban hingga 20 ton dan bertahan hingga bertahun-tahun,” ujar Mitra Hengki, Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar.
Senyum yang Kembali Pulang
Kini, deru mesin truk, mobil pikap pengangkut karet, hingga motor anak sekolah kembali meramaikan Ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu. Di tepi jembatan, Rela Islamiah (26) tersenyum lebar di balik meja warung kelontongnya.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari,” ujarnya lirih.
Jembatan Rp4,9 miliar ini mungkin belum permanen. Namun, bagi ribuan warga yang menggantungkan hidup di jalur ini, ia adalah jembatan emas yang membawa kembali senyum, modal usaha, dan masa depan yang sempat terputus banjir bandang.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.