Samosir, Sumatera Utara [DESA MERDEKA] – Jauh sebelum paku ditemukan dalam industri konstruksi modern, leluhur masyarakat Batak Toba di Huta Simarmata sudah menguasai arsitektur tingkat tinggi. Kekayaan intelektual inilah yang membuat Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa permukiman adat di Desa Hariara Pohan, Kabupaten Samosir, ini sangat layak naik kelas menjadi Cagar Budaya Peringkat Nasional.
Saat ini, Huta Simarmata masih berstatus cagar budaya tingkat kabupaten berdasarkan Keputusan Bupati Samosir Nomor 9 Tahun 2021. Namun, setelah meninjau langsung sisa-sisa peradaban di sana pada Senin (9/2/2026), Fadli Zon berkomitmen mendorong percepatan status nasional guna memperkuat perlindungan dan pemanfaatannya bagi edukasi dunia.
“Di kampung ini masih terdapat rumah adat yang berusia lebih dari 300 tahun. Teknik pembangunannya tanpa paku, menunjukkan pengetahuan arsitektur tradisional yang sangat maju,” ungkap Fadli Zon.

Museum Terbuka Berusia Ratusan Tahun
Huta Simarmata bukan sekadar desa wisata, melainkan sebuah museum terbuka yang masih “hidup”. Kawasan ini mempertahankan struktur ruang tradisional Batak Toba yang autentik, lengkap dengan elemen pelindung dan simbol spiritual masa lalu.
Beberapa artefak raksasa yang menjadi sorotan utama antara lain:
- Sarkofagus Batu Raksasa: Rekam jejak seni pahat ratusan tahun lalu yang menampilkan figur manusia jongkok dengan ekspresi wajah khas.
- Rumah Adat (Sopo) Purba: Sekitar sepuluh unit rumah kayu kuno yang tetap kokoh meski dimakan usia.
- Lesung Batu Komunal: Simbol tradisi agraris yang menunjukkan betapa kuatnya sistem gotong royong masyarakat Batak zaman dahulu.
Destinasi Belajar, Bukan Sekadar Swafoto
Sudut pandang out of the box yang dibawa Kementerian Kebudayaan adalah menggeser stigma destinasi wisata dari sekadar “pemandangan indah” menjadi “pusat pembelajaran sejarah”. Huta Simarmata menawarkan pengalaman langsung bagi wisatawan untuk membedah cara hidup, hukum adat, dan teknologi masa lalu masyarakat Batak secara tatap muka.
“Datang ke sini bukan hanya untuk pemandangan, tetapi belajar sejarah dan cara hidup. Ini adalah sumber pembelajaran kebudayaan yang tiada duanya,” pungkas Fadli. Dengan status cagar budaya nasional nantinya, kawasan ini diharapkan mendapat perhatian lebih dalam aspek restorasi dan promosi internasional sebagai identitas kebanggaan Indonesia.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.