Singosari, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Ketergantungan penuh terhadap kucuran anggaran pusat kini mulai dikikis oleh Pemerintah Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari. Di tengah dinamisnya kebijakan alokasi Dana Desa (DD) dari Kementerian Keuangan, desa yang terletak di wilayah barat Singosari ini memilih langkah progresif: memperkuat tata kelola keuangan dan menggenjot Pendapatan Asli Desa (PAD) demi mencapai kemandirian finansial total.
Langkah strategis ini dikawal langsung oleh Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari bersama Tim Klinik APBDesa. Jika dalam kisah klasik Journey to the West perjalanan ke barat bertujuan mencari kitab suci, maka perjalanan tim pelaksana ke wilayah barat Singosari kali ini adalah misi suci mengawal Desa Gunungrejo agar mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Dalam agenda ini, TPP dan Klinik APBDesa memfasilitasi percepatan penyusunan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun Anggaran 2025–2026, sekaligus merumuskan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Tahun 2027. Penyusunan RKP Desa kali ini dirancang khusus dengan membaca arah kebijakan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan RI agar desa siap menghadapi segala skenario perubahan anggaran pusat.
Kepala Desa Gunungrejo secara lugas menegaskan visi besar ini di hadapan para perangkat dan pendamping desa. “Ada atau tidak adanya Dana Desa di masa depan, Gunungrejo harus tetap mampu membangun dan menyejahterakan masyarakat,” ujarnya optimistis.
Dua Pilar Ekonomi: Ledok Ombo dan Melon Premium
Untuk melepaskan diri dari ketergantungan transfer pusat, Gunungrejo kini bertumpu pada eksplorasi dua potensi lokal berskala unggulan:
* Sektor Pariwisata: Revitalisasi dan pengembangan infrastruktur Wisata Alam Ledok Ombo terus dipacu. Targetnya jelas, menarik kunjungan wisatawan regional hingga nasional demi menyumbang retribusi langsung ke kas desa.
* Sektor Ketahanan Pangan: Desa menginisiasi budidaya melon premium. Program agrobisnis ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan warga, namun juga diproyeksikan menjadi mesin pencetak PAD baru sekaligus membuka lapangan kerja padat karya bagi pemuda desa.
Tata Kelola Keuangan sebagai Fondasi
Pendampingan intensif dari TPP dan Klinik APBDesa diarahkan agar tata kelola keuangan desa bergerak secara transparan, akuntabel, dan produktif. Pemerintah desa dilarang sekadar menghabiskan anggaran untuk infrastruktur mati, melainkan diwajibkan mengalokasikannya pada program stimulan ekonomi yang menghasilkan manfaat jangka panjang.
Melalui langkah berani ini, Desa Gunungrejo mengirimkan pesan kuat bagi desa-desa lain di Indonesia. Kemandirian finansial sejati tidak lahir dari ruang tunggu bantuan, melainkan dari perencanaan yang matang, pengelolaan potensi lokal yang jeli, serta keberanian dalam menatap masa depan demi kesejahteraan warga desa yang berkelanjutan.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.