Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Miomaffo Timur tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah kecamatan setempat telah menetapkan empat titik strategis untuk pembangunan dapur utama, yakni di Desa Oesena, Fatusene, Amol, dan Kaenbaun. Langkah ini merupakan strategi besar untuk memastikan puluhan sekolah dan posyandu mendapatkan asupan nutrisi tanpa bergantung pada pasokan luar daerah.
Camat Miomaffo Timur, Stefanus Y. Neonbeni, S.Hut, menegaskan bahwa pemetaan sasaran sudah tuntas dilakukan. Program ini diproyeksikan melayani 17 TK/PAUD, 13 SD, 5 SMP, 3 SMA/SMK, hingga 25 Posyandu yang tersebar di wilayah tersebut.
“Kami sudah memetakan sekolah mana saja yang akan dilayani oleh masing-masing dapur. Sekarang tinggal menunggu petunjuk teknis dari kabupaten untuk memulai pembangunan fisik,” ujar Stefanus saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12/2/2026).
Kedaulatan Pangan: Dari Petani Langsung ke Dapur
Satu hal yang menarik dari kesiapan Miomaffo Timur adalah ambisi mereka untuk memutus ketergantungan pangan dari luar wilayah. Melalui skema pemanfaatan 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan, para kepala desa telah sepakat memasok kebutuhan dapur MBG secara mandiri.
Sayur-mayur akan disuplai dari desa dengan sumber air melimpah seperti Taekas, Femnasi, dan Tunoe. Sementara itu, kebutuhan protein hewani telah disiapkan melalui sentra ayam pedaging di Taekas serta ayam petelur di Tuntun dan Oesena. Bahkan, buah melon dari Bitefa siap menjadi pelengkap menu bergizi tersebut.
Mendorong Ekonomi Riil di Tingkat Desa
Stefanus menjelaskan bahwa keberadaan empat dapur ini harus menjadi stimulus ekonomi bagi kelompok tani dan peternak lokal. Koordinasi intensif dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) terus dilakukan agar jadwal tanam dan produksi ternak masyarakat sinkron dengan kebutuhan porsi harian dapur.
“Kami ingin menghindari kondisi dapur harus mengambil bahan dari luar wilayah. Masyarakat harus menyiapkan stok sejak dini. Jika masyarakat tahu jumlah porsi dan menu harian, mereka bisa memproduksi pangan sesuai kebutuhan pasar yang sudah pasti ini,” tegasnya.
Dengan integrasi antara sektor pendidikan, kesehatan, dan pertanian lahan kering ini, Miomaffo Timur optimistis program MBG akan menjadi mesin penggerak kesejahteraan masyarakat sekaligus memutus rantai stunting di perbatasan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.