Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta [DESA MERDEKA] – Potensi ekonomi desa sering kali tersembunyi di balik pagar rumah warga, namun luput dari pengelolaan yang serius. Dr. Dessy Rachmawatie, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menemukan realitas ini saat terjun ke Kalurahan Sidomulyo. Di sana, pohon pisang tumbuh subur di hampir setiap jengkal pekarangan, namun selama bertahun-tahun hanya dipanen mentah dengan nilai jual yang rendah.
Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam program nasional era Presiden Prabowo Subianto menjadi momentum besar. Namun, Dr. Dessy menegaskan bahwa kelembagaan saja tidak cukup. Tanpa inovasi dan standardisasi produk, pohon pisang di Sidomulyo hanya akan tetap menjadi tanaman hias tanpa dampak signifikan pada dompet warga.
Pendampingan: Bukan Mengajari, Tapi Menemani
Bersama rekan setimnya, Sri Ani Puji Setiawati, S.S., M.A., Dr. Dessy merancang pengabdian masyarakat yang bukan sekadar program “hit and run”. Mereka membedah akar persoalan: produk olahan warga sebenarnya sudah ada, namun belum memiliki “paspor” untuk menembus pasar modern.
Langkah konkret pun diambil melalui sertifikasi halal dan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Proses ini mengubah cara pandang Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat dari sekadar “memasak untuk camilan” menjadi “berproduksi untuk pasar”. Diversifikasi produk dan kemasan ramah lingkungan pun mulai diterapkan, sejalan dengan prinsip ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Simbol Perlawanan Terhadap Kemiskinan Desa
Dari perspektif ekonomi sirkular, apa yang terjadi di Sidomulyo adalah transformasi nilai tambah. Sampah produksi dikelola, kualitas bahan baku dijaga, dan potensi lokal dihubungkan langsung dengan peluang pasar melalui koperasi.
“Pisang di pekarangan bukan sekadar tanaman biasa. Ia adalah simbol potensi desa yang selama ini menunggu untuk diolah menjadi nilai ekonomi,” ungkap Dr. Dessy. Pengalaman ini membuktikan bahwa perguruan tinggi harus hadir dalam bentuk nyata—bukan sekadar publikasi ilmiah yang berdebu di rak perpustakaan—untuk memastikan pengetahuan benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.
| Aspek | Kondisi Lama | Transformasi Baru |
| Produk | Pisang mentah/olahan sederhana | Produk terstandardisasi Halal & PIRT |
| Nilai Ekonomi | Rendah dan fluktuatif | Nilai tambah tinggi melalui diversifikasi |
| Kesadaran | Konsumsi pribadi | Orientasi pasar & Ekonomi Hijau |
| Peran Kampus | Meneliti dari jauh | Pendampingan berkelanjutan di lapangan |
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.