Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

PENDIDIKAN · 24 Mar 2026 18:32 WIB ·

Emas Hijau Sidomulyo: Mengubah Pisang Pekarangan Menjadi Cuan


					Foto Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat pada Anggota KDMP Sidomulyo Kulon Progo (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Perbesar

Foto Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat pada Anggota KDMP Sidomulyo Kulon Progo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta [DESA MERDEKA] Potensi ekonomi desa sering kali tersembunyi di balik pagar rumah warga, namun luput dari pengelolaan yang serius. Dr. Dessy Rachmawatie, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menemukan realitas ini saat terjun ke Kalurahan Sidomulyo. Di sana, pohon pisang tumbuh subur di hampir setiap jengkal pekarangan, namun selama bertahun-tahun hanya dipanen mentah dengan nilai jual yang rendah.

Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam program nasional era Presiden Prabowo Subianto menjadi momentum besar. Namun, Dr. Dessy menegaskan bahwa kelembagaan saja tidak cukup. Tanpa inovasi dan standardisasi produk, pohon pisang di Sidomulyo hanya akan tetap menjadi tanaman hias tanpa dampak signifikan pada dompet warga.

Pendampingan: Bukan Mengajari, Tapi Menemani
Bersama rekan setimnya, Sri Ani Puji Setiawati, S.S., M.A., Dr. Dessy merancang pengabdian masyarakat yang bukan sekadar program “hit and run”. Mereka membedah akar persoalan: produk olahan warga sebenarnya sudah ada, namun belum memiliki “paspor” untuk menembus pasar modern.

Langkah konkret pun diambil melalui sertifikasi halal dan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Proses ini mengubah cara pandang Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat dari sekadar “memasak untuk camilan” menjadi “berproduksi untuk pasar”. Diversifikasi produk dan kemasan ramah lingkungan pun mulai diterapkan, sejalan dengan prinsip ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Simbol Perlawanan Terhadap Kemiskinan Desa
Dari perspektif ekonomi sirkular, apa yang terjadi di Sidomulyo adalah transformasi nilai tambah. Sampah produksi dikelola, kualitas bahan baku dijaga, dan potensi lokal dihubungkan langsung dengan peluang pasar melalui koperasi.

“Pisang di pekarangan bukan sekadar tanaman biasa. Ia adalah simbol potensi desa yang selama ini menunggu untuk diolah menjadi nilai ekonomi,” ungkap Dr. Dessy. Pengalaman ini membuktikan bahwa perguruan tinggi harus hadir dalam bentuk nyata—bukan sekadar publikasi ilmiah yang berdebu di rak perpustakaan—untuk memastikan pengetahuan benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.

Aspek Kondisi Lama Transformasi Baru
Produk Pisang mentah/olahan sederhana Produk terstandardisasi Halal & PIRT
Nilai Ekonomi Rendah dan fluktuatif Nilai tambah tinggi melalui diversifikasi
Kesadaran Konsumsi pribadi Orientasi pasar & Ekonomi Hijau
Peran Kampus Meneliti dari jauh Pendampingan berkelanjutan di lapangan
Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Mencetak Generasi Kritis: Investasi Karakter dari Akar Rumput

10 Mei 2026 - 21:25 WIB

Hardiknas di Wonosalam: Saat Aparat Patungan Demi Sepatu Siswa

7 Mei 2026 - 21:24 WIB

Rumus Kepercayaan Anies Baswedan: Senjata Pemuda Membangun Desa

7 Mei 2026 - 13:03 WIB

Ijon Proyek Pendidikan : Benalu Baru di Sekolah Desa Bekasi

5 Mei 2026 - 09:42 WIB

BRI Peduli Gelar Kelas Inspirasi, Bagikan Alat Tulis ke Siswa SDN 104 Langensari Bandung

4 Mei 2026 - 09:18 WIB

Matikan TV Jauhkan Gawai: Budaya Baru Desa Banjaran

4 Mei 2026 - 05:15 WIB

Trending di PENDIDIKAN