Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 3 Sep 2025 19:19 WIB ·

Peternakan Ayam Diduga Tanpa Izin Resahkan Warga Bekasi


					Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] Sebuah peternakan ayam berkapasitas puluhan ribu ekor di Kampung Utan Jati, Desa Jayabakti, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, menjadi sorotan tajam. Pasalnya, fasilitas ini diduga kuat beroperasi tanpa mengantongi izin resmi, padahal letaknya sangat dekat dengan area pertanian dan permukiman warga.

Ketua LSM Peduli Keadilan (Peka), Obay Hendra Winandar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat klarifikasi kepada pemilik peternakan, Jamaluddin dan Nurdin. Surat tersebut meminta rincian perizinan penting seperti izin pengeboran sumur satelit, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), izin pemanfaatan lahan Perum Jasa Tirta (PJT) yang digunakan untuk akses jembatan, serta izin lingkungan. Namun hingga hari ini, tidak ada respons resmi.

“Kami sudah berkirim surat, tapi belum ada jawaban terkait kelengkapan dokumen perizinan. Ini menimbulkan tanda tanya besar,” tegas Obay kepada wartawan pada Selasa (3/9/2025).

Ia menekankan bahwa masalah ini bukan sekadar urusan administratif. Lebih dari itu, persoalan ini menyangkut hak-hak dasar masyarakat yang berpotensi terganggu jika aktivitas usaha dibiarkan tanpa regulasi yang ketat. Tanpa izin yang sah, operasional peternakan berisiko mencemari lingkungan, mengganggu sumber daya air, dan merusak ekosistem sekitar.

“Jika izinnya lengkap, masyarakat terlindungi, pengusaha juga aman, dan negara mendapat haknya dari pajak maupun retribusi. Tapi kalau dibiarkan, jelas merugikan banyak pihak,” jelasnya.

LSM Peka juga menuding peternakan tersebut berpotensi melanggar sejumlah aturan hukum. Beberapa di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta regulasi turunan lainnya seperti PP Nomor 22 Tahun 2021 dan Permen LHK Nomor 4 Tahun 2021.

Obay menegaskan, pihaknya tak akan tinggal diam. Jika tidak ada tanggapan, laporan resmi akan segera dilayangkan ke pihak berwajib, termasuk Polres Metro Bekasi, Dinas Lingkungan Hidup, dan Satpol PP.

“Kami akan laporkan supaya diproses sesuai perundang-undangan. Tidak boleh ada pengusaha yang kebal hukum, apalagi jika keberadaannya merugikan masyarakat,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi ujian serius bagi Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menunjukkan komitmen dalam menegakkan aturan perizinan, sekaligus memastikan keadilan hukum berlaku untuk semua pihak tanpa pandang bulu.

(Ahmad Syarifudin, C.BJ.,C.EJ)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 84 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat

30 Juni 2026 - 12:30 WIB

Trending di RAGAM