Kupang, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Desa tidak lagi sekadar menjadi objek pasif di pinggiran pembangunan, melainkan motor penggerak ekonomi nasional. Langkah nyata ini terlihat saat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri, mengunjungi BUMDesa Damai Lifuleo di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (15/5/2026). Kunjungan ini menegaskan posisi desa dalam Asta Cita ke-6 pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun dari bawah demi pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
BUMDesa Damai Lifuleo sukses mengintegrasikan pengelolaan lima destinasi wisata alam—Pantai Oesina, Pantai Salupu, Pantai Eno Kono, Kolam Air Tawar Tuadale, dan Gua Kelelawar—dengan sektor penunjang seperti peternakan, perikanan, pertanian, dan jasa sewa. Potensi besar ini dipuji karena telah memiliki infrastruktur dasar penunjang kenyamanan wisatawan, seperti sentra kuliner, gazebo, dan pusat informasi eco wisata.

Inovasi Wisata dan Ekonomi Gotong Royong
Meskipun infrastruktur dasar sudah tersedia, tantangan berikutnya bagi pengelola adalah konsistensi inovasi. Mendes Yandri menekankan pentingnya pembenahan fasilitas secara berkelanjutan agar wisatawan tertarik untuk berkunjung kembali. Kuncinya terletak pada manajemen promosi yang gencar, baik melalui kanal online maupun offline, guna mendongkrak pendapatan desa secara signifikan.
Lebih dari sekadar mengejar angka kunjungan, esensi pembangunan pariwisata ini wajib menyentuh kesejahteraan warga lokal. Pemberdayaan masyarakat secara langsung sebagai pemandu wisata, pengrajin suvenir, hingga pelaku seni akan memberikan dampak ekonomi instan yang langsung dirasakan oleh keluarga-keluarga di desa.
Desa Tematik Memasok Rantai Pasok Nasional
Di luar sektor pariwisata, Desa Lifuleo juga diproyeksikan menjadi bagian dari program strategis nasional. Pemantauan pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di lokasi menunjukkan kesiapan desa dalam mengelola tujuh unit usaha sekaligus, mulai dari apotek, klinik, simpan pinjam, pengadaan sembako, logistik, hingga gudang pendingin (cold storage).
Sinergi ini diperkuat dengan integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui konsep “Desa Tematik”—seperti Desa Ayam Petelur, Desa Daging, Desa Ikan Nila, hingga Desa Tomat—desa dituntut jeli melihat potensi wilayahnya. Skala kebutuhan komoditas pangan ini sangat masif.
“Kebutuhan bahan baku program MBG ini sangat tinggi. Contoh telur dalam sehari dibutuhkan 80 juta butir telur, untuk itu hasil produksi warga desa ini nantinya dikumpulkan oleh BUMDesa yang kemudian disalurkan ke Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi,” ujar Yandri.
Langkah strategis ini tidak hanya mengamankan pasokan pangan anak-anak sekolah, tetapi juga mengunci perputaran uang tetap berada di dalam desa, memicu kemandirian ekonomi, dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara agregat.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.