Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KESEHATAN · 3 Agu 2026 07:48 WIB ·

Ketika Hutan Menyelamatkan Anak-Anak: Delapan Tahun Perjuangan Wonorejo Melawan Stunting


					Ketika Hutan Menyelamatkan Anak-Anak: Delapan Tahun Perjuangan Wonorejo Melawan Stunting Perbesar

 

Dari Hutan ke Meja Makan: Cara Wonorejo Mengalahkan Stunting
Rembuk Stunting Desa Wonorejo: Suasana Rembuk Stunting dihadiri,Kecamatan singosari,Pemdes Wonorejo,TPP Kec.Singosari,Kader Kesehatan,KPM,Bidan dll

“Anak yang tumbuh sehat tidak hanya lahir dari makanan bergizi, tetapi juga dari hutan yang tetap hijau, air yang terus mengalir, dan masyarakat yang tidak pernah berhenti bergotong royong.”

Sebagian besar desa melawan stunting melalui Posyandu, pemberian makanan tambahan, dan layanan kesehatan. Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, memilih memulai dari hutan.

Pilihan yang terdengar tidak lazim itu justru menjadi fondasi keberhasilan mereka menurunkan angka stunting. Di Wonorejo, kesehatan anak dipahami sebagai mata rantai yang tidak terpisahkan dari kelestarian lingkungan, ketersediaan air, ketahanan pangan, hingga budaya gotong royong.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Rembuk Stunting Desa Wonorejo pada 31 Juli 2026. Pemerintah desa, Puskesmas, Kader Pembangunan Manusia (KPM), Posyandu, BPD, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat berkumpul mengevaluasi perjalanan panjang yang telah mereka tempuh.

Dari Desa dengan Kasus Tertinggi Menjadi Desa Penuh Harapan

Empat tahun lalu, Wonorejo pernah menjadi desa dengan jumlah kasus stunting tertinggi di Kecamatan Singosari. Pada 2022, sekitar 159 anak tercatat mengalami stunting.

Alih-alih saling menyalahkan, pemerintah desa bersama tenaga kesehatan, kader Posyandu, KPM, dan masyarakat memilih bergerak bersama. Pendataan diperbaiki, intervensi gizi diperkuat, edukasi keluarga dilakukan dari rumah ke rumah, sementara Posyandu dikembangkan menjadi pusat layanan sekaligus ruang belajar bagi para orang tua.

Hasilnya mulai terlihat. Dari 350 balita yang tersebar di lima Posyandu, kini hanya tercatat lima balita dengan berat badan kurang dan dua ibu hamil mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK).

Namun bagi Wonorejo, penurunan angka itu hanyalah hasil. Perubahan sesungguhnya dimulai jauh sebelum program kesehatan dijalankan.

Delapan Tahun Perjuangan Wonorejo Melawan Stunting
Rembuk Stunting Wonorejo; Forum Group Diskusi dibagi menjadi 4 Kelompok untuk mengurai seluruh permasalahan stunting yang ada di desa wonorejo

Semua Berawal dari Hutan

Sekitar 2017, Wonorejo dilanda krisis air bersih. Saat musim kemarau, warga bergantung pada pasokan truk tangki karena debit mata air terus menurun.

Sekretaris Desa Wonorejo, Abdul Halim, menyebut kondisi itu menjadi titik balik.

“Kami menyadari persoalannya bukan sekadar kekurangan air, tetapi rusaknya kawasan hutan sebagai daerah tangkapan air. Bersama masyarakat kami menanam ribuan pohon. Delapan tahun kemudian, mata air kembali mengalir dan Wonorejo terbebas dari kekeringan.”

Kesaksian tersebut diamini Rusmin, warga yang pernah merasakan sulitnya memperoleh air bersih.

“Dulu kami harus mengantre truk tangki air. Sekarang air kembali tersedia. Kami merasakan sendiri manfaat menjaga hutan.”

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Butuh delapan tahun hingga hutan kembali menghijau, debit mata air meningkat, dan kehidupan warga perlahan pulih.

Dari sinilah perjuangan melawan stunting menemukan pijakannya. Air yang kembali mengalir menghidupkan pertanian, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka jalan menuju perbaikan gizi masyarakat.

Ketika Pekarangan Menjadi Dapur Gizi

Wonorejo kemudian memanfaatkan potensi lokal untuk memperkuat gizi keluarga.

Daun kelor yang dahulu tumbuh tanpa perhatian kini diolah menjadi berbagai menu bergizi. Susu segar dari peternak lokal diproses menjadi yogurt sebagai tambahan asupan balita dan ibu hamil.

Menurut kader kesehatan Waseni, tujuan utamanya sederhana: menyediakan pangan bergizi yang murah dan mudah dijangkau.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa makanan bergizi sebenarnya sudah tersedia di sekitar kita. Tinggal bagaimana mengolahnya.”

Gerakan tersebut menjadikan kelor bukan sekadar tanaman pekarangan, melainkan simbol kemandirian pangan desa.

Upaya itu diperkuat melalui budidaya ikan dalam ember (Budikdamber) dan lomba Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal. Perlahan, pencegahan stunting berubah dari program pemerintah menjadi budaya masyarakat.

Menuju Wonorejo Zero Stunting

Kepala Desa Samsul Hadi menegaskan perjuangan belum berakhir.

“Pemerintah Desa mendukung penuh seluruh upaya menuju Wonorejo Zero Stunting. Semua anak harus memperoleh kesempatan tumbuh sehat.”

Komitmen itu menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur dari jalan yang dibangun atau gedung yang berdiri, tetapi dari semakin banyak anak yang tumbuh sehat dan siap menyongsong masa depan.

Ketika Desa Mengajarkan Indonesia Cara Melawan Stunting

Delapan tahun lalu, warga Wonorejo mengantre air dari truk tangki.

Hari ini, mata air kembali mengalir. Pohon-pohon yang ditanam mulai berbuah. Kelor tumbuh di pekarangan. Susu diolah menjadi yogurt. Ikan dipelihara sebagai sumber protein keluarga.

Wonorejo membuktikan bahwa perang melawan stunting tidak selalu dimulai di Posyandu. Kadang, langkah pertama justru dimulai dengan menanam pohon dan menjaga hutan.

Dari hutan yang kembali hijau lahir air yang menghidupi sawah. Dari sawah dan pekarangan lahir pangan bergizi. Dari pangan bergizi tumbuh anak-anak yang lebih sehat.

Wonorejo tidak sekadar menurunkan angka stunting. Desa ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia dimulai ketika alam dipulihkan dan gotong royong tetap hidup.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kolaborasi Indonesia–Arab Saudi Perkuat Layanan Operasi Jantung Anak di Sumbar

2 Agustus 2026 - 20:49 WIB

Menghitung Detak Jantung Generasi: Cara Singosari Melawan Stunting

21 Juli 2026 - 21:03 WIB

Rakor Kader Pembangunan Manusia Kecamatan Singosari membahas percepatan penurunan stunting melalui e-HDW di Hall Room Desa Ardimulyo

Layanan Jiwa PDSKJI Sumbar Sasar Pelosok Nagari

20 Juli 2026 - 20:19 WIB

Digitalisasi Hati dari Desa: Gerakan Akar Rumput Sigap Melati

1 Juli 2026 - 19:58 WIB

Penanganan Stunting Desa Langlang melalui Rembuk Stunting

Korupsi SKTM RSUD Tulungagung Cederai Hak Sehat Warga Desa

26 Juni 2026 - 18:05 WIB

Desa Dengkol Mengubah Rembug Stunting Menjadi Laboratorium Solusi

24 Juni 2026 - 13:34 WIB

Trending di KESEHATAN