Batang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Siapa bilang kreativitas menulis hanya milik kaum akademisi di kota besar? Di Batang, sebuah “revolusi sunyi” dalam bentuk literasi baru saja lahir dari tangan-tangan warga belajar PKBM Omah Sinau. Pada Sabtu (15/2/2025), halaman Madin At Taqwa menjadi saksi sejarah peluncuran buku bertajuk Cahaya Desa yang Tak Pernah Padam.
Buku ini bukan sekadar kumpulan kertas, melainkan manifestasi perlawanan terhadap batasan usia dan status sosial. Ditulis langsung oleh warga belajar, karya ini membuktikan bahwa setiap individu di pelosok desa memiliki narasi yang layak dibukukan. Kehadiran tokoh sastra dan pendidikan dalam peluncuran ini pun semakin mempertegas posisi tawar literasi desa di kancah nasional.

Menulis Sebagai Jalan Menuju Keabadian
Salah satu penulis, Faidhotul Ilmi, membagikan getaran semangatnya saat proses kreatif berlangsung. Baginya, menjadi bagian dari buku ini adalah sebuah pencapaian personal yang luar biasa. Semangat ini pun diamini oleh budayawan Ribut Achwandi yang hadir memberikan perspektif mendalam.
Menurut Ribut, menulis adalah cara manusia untuk “hidup” selamanya. “Orang sukses adalah mereka yang memiliki banyak cerita dan mampu membagikannya. Teruslah menulis, karena tulisan adalah bentuk keabadian kita,” ungkapnya di hadapan warga belajar yang antusias.
Memutus Rantai Buta Karya di Desa
Ketua Omah Sinau, Slamet Nurchamid, menjelaskan bahwa buku ini adalah langkah konkret untuk membangun budaya baca-tulis yang kuat di tingkat akar rumput. Harapannya, warga tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan.
Senada dengan itu, founder takselesai.com, H. Zaimudin Ahya, menekankan bahwa tulisan merupakan warisan intelektual yang paling berharga. Potensi menulis ada pada setiap orang, tinggal bagaimana lingkungan seperti PKBM Omah Sinau mampu memfasilitasi “bara” tersebut hingga menjadi cahaya yang menerangi desa.
Melalui momentum ini, Batang menunjukkan bahwa literasi desa adalah energi yang stabil. Selama warga masih mau menggoreskan pena, maka cahaya ilmu di desa tersebut dipastikan tidak akan pernah padam.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.