Banggai, Sulawesi Tengah [DESA MERDEKA] – Malam di Desa Tangeban, Kecamatan Masama, berubah menjadi lautan cahaya, Senin (16/2/2026). Ribuan obor bambu menyala terang, membelah kegelapan jalanan desa dalam tajuk “Gebyar Tarhib Ramadhan 1447 H”. Namun, pawai ini tak sekadar parade api; ia adalah panggung pembuktian kolaborasi antara kemandirian pemuda dan edukasi dini bagi anak-anak di pelosok Banggai.
Dimulai dari Masjid Al-Ikhsan, rute pawai melintasi Desa Serese hingga Desa Taugi. Uniknya, seluruh kemeriahan ini lahir dari keringat para pemuda Karang Taruna yang bergerilya selama tujuh hari—mulai dari masuk hutan mencari bambu, merakit obor, hingga menggalang dana swadaya.
Kemandirian di Balik Nyala Api
Ketua Panitia, Rahmat Rinaldi Bungada, mengungkapkan rahasia di balik tingginya antusiasme warga. Panitia menerapkan sistem kupon undian bagi setiap warga yang membeli obor swadaya. Hadiahnya pun tak main-main untuk skala desa, mulai dari kompor gas hingga kipas angin.
“Kami ingin ukhuwah Islamiah tumbuh dengan cara yang menyenangkan. Persiapan mulai dari ambil bambu di hutan sampai menyiapkan doorprize murni hasil kerja keras pemuda,” jelas Rahmat. Strategi “jual obor berhadiah” ini terbukti ampuh menyatukan partisipasi masyarakat tanpa harus bergantung penuh pada kas daerah.
Panggung Berani bagi Penari Cilik
Salah satu momen paling menyentuh dalam pembukaan acara adalah penampilan tujuh siswi TK Negeri Masama 2 Tangeban. Di bawah sorot lampu masjid, anak-anak berusia dini ini membawakan tari seni religi dengan penuh percaya diri.
Kepala Sekolah TK Negeri Masama 2, Apriani Sapi’i, menceritakan bahwa melatih anak-anak ini adalah tantangan yang penuh warna. “Latihannya hanya dua hari, penuh drama khas karakter anak-anak yang unik. Namun tujuannya besar: menanamkan keberanian dan cinta agama sejak mereka masih kecil,” tuturnya. Penampilan ini menjadi pengalaman perdana mereka tampil di depan publik dalam skala besar.
Simbol Iman dan Penjaga Silaturahmi
Bupati Banggai, H. Amirudin, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Suparman Ba’u, memaknai api obor sebagai simbol cahaya keimanan yang harus menerangi hati setiap muslim selama Ramadan. Pemerintah Desa Tangeban sendiri telah menjadikan pawai ini sebagai agenda rutin yang terus berevolusi setiap tahun.
Bagi Kepala Desa Tangeban, Rinto Sapi’i, dukungan terhadap Karang Taruna adalah investasi sosial. “Pawai obor adalah cara masyarakat kami menjaga silaturahmi agar tetap hangat,” pungkasnya. Malam itu, Tangeban tidak hanya menyambut Ramadan dengan doa, tetapi juga dengan kobaran semangat kolektif yang menyatukan lintas generasi.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.