Banyumas, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Sikap terlalu idealis di kalangan mahasiswa dan pemuda ternyata menyimpan efek samping yang cukup mengkhawatirkan: kegagalan membaca peluang politik yang berujung pada tindakan golput (golongan putih).
Fakta ini mengemuka dalam diskusi taktis yang digelar Komunitas Melek Politik (KoMPol) Banyumas di Riverside Cafe, Karanglewas. Mengangkat tajuk “Sosialisasi Milenial No Golput untuk Indonesia Maju”, forum ini menyoroti tren penurunan partisipasi pemilih pemula yang justru dipicu oleh cara pandang mereka sendiri.

Nadhif Nasrullah, salah satu pemateri diskusi, membedah data historis Pemilu 2019 secara gamblang. Dari total 20,1 persen angka golput nasional saat itu, separuhnya—atau sekitar 10 persen—didominasi oleh kelompok pemuda.
“Ini dikarenakan mahasiswa terlalu idealis, sehingga pada akhirnya mereka tidak bisa membaca peluang,” ujar Nadhif lugas.

Dominasi Suara Muda di Daerah
Fenomena keengganan menggunakan hak suara ini menjadi pekerjaan rumah besar, terutama melihat potret demografi pemilih saat ini. Berdasarkan pendataan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banyumas, konstelasi pemilih kini dikuasai oleh generasi muda dengan porsi mencapai 52 persen dari total daftar pemilih.

Jika dirinci, dominasi tersebut disumbang oleh dua kelompok usia:
- Generasi Z: 22,85 persen
- Generasi Milenial: 36,60 persen
Angka mayoritas ini menjadikan pemuda sebagai faktor determinan alias penentu utama arah kebijakan pembangunan bangsa serta perdesaan untuk lima tahun ke depan.

Proposal Politik di Ruang Digital
Direktur KoMPol Banyumas, Triasih Kartikowati, menegaskan bahwa tingginya partisipasi politik mencerminkan sejauh mana rakyat memahami persoalan negaranya. Sebaliknya, angka golput yang tinggi akan menggerus legitimasi pemerintahan yang terbentuk.
Di era modern yang serba digital, para kontestan politik kini aktif melempar proposal politik mereka melalui media online. Pola komunikasi baru ini membuka ruang bagi pemuda untuk menyaring, mengkritisi, dan memanfaatkan teknologi secara kreatif dalam mengawal isu-isu lokal, termasuk pembangunan desa.
Menjelang momentum pemungutan suara pada 14 Februari, peranan aktif generasi muda di tingkat daerah sangat dinantikan. Menolak golput bukan sekadar urusan datang ke tempat pemungutan suara, melainkan langkah konkret pemuda untuk mengambil tanggung jawab atas arah demokrasi dan target jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.