Samarinda, Kalimantan Timur [DESA MERDEKA] – Transaksi digital seperti QRIS, mobile banking, dan dompet digital telah menjadi bagian dari urusan harian masyarakat modern. Namun, kemudahan ini ibarat pisau bermata dua. Di balik kepraktisannya, ancaman kejahatan siber seperti pencurian data pribadi hingga penipuan digital (phishing) terus mengintai pengguna yang lengah.
Menyikapi urgensi tersebut, Program Studi Sistem Informasi Akuntansi (SIA) Politeknik Pertanian Negeri Samarinda menggelar aksi nyata. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), mereka mengusung gerakan “Smart Financial for Smart Generation” di Aula Yayasan Daarul Hijrah Al-Amin, Kamis (17/9/2026).
Fokus utamanya bukan sekadar berbagi teori, melainkan memperkuat benteng literasi keuangan dan perlindungan konsumen digital bagi para guru dan tenaga kependidikan.
Guru Sebagai Agen Literasi Finansial
Pemilihan guru sebagai target utama bukanlah tanpa alasan. Guru memegang posisi strategis dalam ekosistem pendidikan. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pengguna teknologi, tetapi juga penentu karakter generasi muda.
“Guru diharapkan tidak hanya memperoleh manfaat untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi agen literasi yang mampu meneruskan pengetahuan ini kepada siswa melalui pembiasaan di sekolah,” ujar Fanny Ramadhani, S.E., M.Ak, Ketua Pelaksana Kegiatan.
Di era di mana anak usia sekolah sudah akrab dengan gawai dan game online yang melibatkan transaksi uang, edukasi finansial sejak dini menjadi sangat krusial. Guru dapat menyisipkan nilai-nilai dasar—seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, pentingnya menabung, hingga menjaga kerahasiaan identitas digital—ke dalam obrolan kelas sehari-hari.
Mengupas Modus Penipuan di Kehidupan Sehari-hari
Dalam sesi inti, Richa Rachmawati Afac, S.Ak., M.Sc, hadir membedah anatomi keamanan bertransaksi digital. Materi sengaja dikemas secara aplikatif dengan mengangkat studi kasus yang kerap ditemui sehari-hari.

Beberapa poin krusial yang ditekankan dalam edukasi ini meliputi:
Prinsip Kerahasiaan Data: Edukasi ketat mengenai larangan membagikan PIN, password, dan kode OTP (One-Time Password) kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank.
Kewaspadaan Siber: Melatih kepekaan peserta dalam mengenali ciri-ciri tautan (link) palsu, pesan mencurigakan, maupun tawaran hadiah tidak masuk akal yang disebarkan lewat platform chat atau media sosial.
Kebijakan Finansial: Mengajak peserta untuk selalu mempertimbangkan kemampuan finansial sebelum menekan tombol “beli” di marketplace, guna menghindari perilaku konsumtif dan jebakan utang digital seperti paylater.
“Di era ini, cakap teknologi saja tidak cukup. Kita harus memahami risiko di balik setiap transaksi dan memiliki pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan keuangan,” tegas Richa.
Kolaborasi Akademisi untuk Dampak Berkelanjutan
Aksi edukasi ini diperkuat oleh kolaborasi tim dosen SIA Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, di antaranya Emil Riza Putra, M.Kom, Muslimin B, M.Cs, Fajar Ramadhani, M.Kom, Dr. Risna Nona, M.Si, dan Wike Pratiwi, M.Akun. Kehadiran para pakar lintas disiplin ini memastikan materi yang disampaikan berbobot, mutakhir, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat hidup sepanjang sesi diskusi. Berbagai pertanyaan mengenai pengalaman nyata menghadapi modus penipuan digital dijawab dengan solusi praktis oleh tim pemateri.
Melalui inisiatif ini, Prodi SIA Politeknik Pertanian Negeri Samarinda berharap riak edukasi tidak berhenti di aula yayasan. Dengan membekali para guru, mereka sedang menanam benih masa depan: melahirkan generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga bijak, aman, dan cerdas secara finansial.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.