Kepulauan Selayar [DESA MERDEKA] – Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, jam baru menunjukkan pukul 05.58 WITA ketika bumi di Kecamatan Pasimarannu, Kepulauan Selayar, bergoyang hebat. Gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di timur laut Mbay, Nagekeo, NTT, merambat cepat memutus kesunyian pulau terluar ini. Namun, di balik kepanikan yang sempat pecah, sebuah aksi penyelamatan mandiri yang luar biasa tangguh langsung berjalan secara otomatis.
Bagi ribuan warga pesisir Pasimarannu, guncangan besar bukan lagi hal baru. Luka dari tragedi gempa besar Desember 2021 silam memang menyisakan trauma mendalam. Menariknya, trauma ini tidak membuat mereka lumpuh oleh ketakutan. Trauma itu justru telah bermutasi menjadi modal resiliensi—sebuah pengetahuan komunal tentang cara bertahan hidup.
Tanpa perlu menunggu komando atau teriakan pengeras suara, ribuan warga bergerak dalam satu ritme yang teratur. Mereka langsung mengevakuasi diri secara mandiri menuju titik kumpul di perbukitan tinggi yang aman.

Ketangguhan warga teruji saat alam di bawah mereka mulai bertingkah ganjil. Air laut di Pelabuhan Bonerate mendadak surut ekstrem lalu melimpas masuk hingga sejauh 40 meter ke daratan. Dorongan air bergoyang kuat merusak tatanan dermaga. Kapal-kapal nelayan terhempas dari jangkarnya, saling berbenturan, dan beberapa perahu kecil bahkan terseret naik hingga bertengger di halaman belakang rumah warga. Sementara kapal besar lainnya kandas di atas batuan karang yang mendadak kering.
Di tengah situasi pelabuhan yang porak-poranda, warga di atas bukit justru memperlihatkan ketenangan yang solid. Koordinasi Camat Pasimarannu, Andi Ali Akbar, yang terhubung langsung via telepon seluler dengan Bupati Selayar, Muhammad Natsir Ali, mampu mengajak warga bahu-bahu menjaga situasi agar tetap kondusif. Tidak ada ruang bagi hoaks atau kepanikan massal yang tidak perlu.
Warga dengan patuh membiarkan rumah mereka kosong demi keselamatan, memercayakan keamanan aset mereka pada patroli aparat TNI-Polri yang menyisir lorong-lorong kampung. Mereka membuktikan bahwa kesiapan mental mengalahkan kepasrahan pada nasib.
Menjelang siang, ketangguhan itu berbuah manis.
Berdasarkan hasil pantauan bersama BPBD, TNI, dan Polri, tidak ada kerusakan struktural yang parah pada rumah warga, dan air laut pun mulai kembali tenang.
Pada pukul 10.28 WITA, Camat Pasimarannu resmi mengeluarkan imbauan baru.
“Diharapkan kepada seluruh warga yang sedang berada di lokasi evakuasi agar dapat kembali ke rumah masing-masing, namun tetap waspada,” himbau Andi Ali Akbar.
Namun demikian, trauma 2021 masih menyisakan kekuatan nya. Masyarakat masih memilih tinggal bertahan di tempat evakuasi.
Sebagai penyintas yang tangguh, warga Pasimaranu telah memilih untuk menjadi komunitas masyarakat yang paling siap dan responsif terhadap bencana.

“Ketika suara rakyat dibungkan, jurnalisme menjadi senjata. Kami hadir bukan hanya untuk melaporkan, tapi untuk mengingatkan bahwa keadilan dimulai dari keberanian menyuarakan kebenaran. Di balik setiap berita, ada tekad untuk menjadikan desa lebih sadar, lebih berdaya, dan benar-benar merdeka.”
HP : 081355523999


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.