Singosari, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Transformasi sebuah desa sering kali dimulai dari pemenuhan hak paling dasar warganya: air bersih. Bagi warga Dusun Sumbul di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, penderitaan menahun membeli air mahal saat musim kemarau kini resmi berakhir.
Berawal dari selesainya krisis air tersebut, desa ini langsung tancap gas. Mereka menata tata kelola anggarannya demi menyambut lompatan besar sebagai kawasan penyangga utama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari.
Anggaran Miliaran untuk Hak Dasar Warga
Perubahan besar di Dusun Sumbul terjadi berkat pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Singosari senilai Rp11,2 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Infrastruktur vital ini mengalirkan air bersih langsung melalui jaringan perpipaan dan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPAM) ke rumah-rumah warga.
Tercatat ada 405 kepala keluarga atau sekitar 1.620 jiwa yang kini terbebas dari beban finansial membeli air jeriken. Selesainya masalah air bersih ini bukan sekadar meningkatkan kualitas kesehatan, melainkan menjadi modal sosial yang membangkitkan optimisme warga untuk membangun ekonomi tangguh.

Menangkap Peluang Emas KEK Singhasari
Posisi geografis Desa Klampok sangat strategis karena menempel langsung dengan KEK Singhasari. Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat ekonomi digital, industri kreatif, pendidikan, dan pariwisata berbasis sejarah terbesar di Jawa Timur.
“Masyarakat sangat mendukung pengembangan KEK Singhasari. Kawasan ini membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan nilai aset masyarakat,” ungkap Kepala Desa Klampok, Jefry Arnast.
Sejumlah investor luar bahkan mulai melirik Klampok untuk investasi di sektor pariwisata dan pendidikan formal. Agar warga desa tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri, pemerintah desa fokus memperkuat kapasitas pelaku UMKM lokal, melatih talenta digital muda, dan mengarahkan sektor pertanian ke produk bernilai tambah tinggi.
Benteng Regulasi lewat Klinik APBDes
Lompatan ekonomi yang besar memerlukan benteng administrasi yang kokoh agar tidak menjadi bumerang hukum di kemudian hari. Di sinilah pentingnya sinkronisasi anggaran yang dikawal oleh Tim Klinik APBDes Kecamatan Singosari bersama Tenaga Pendamping Profesional (TPP).
Melalui evaluasi ketat terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) 2025 dan pemantauan anggaran berjalan 2026, Desa Klampok dipastikan memiliki rapor keuangan yang transparan dan akuntabel. Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Tahun 2027 pun dirancang visioner guna menyesuaikan diri dengan deru pembangunan digital di sekitarnya.
Klampok memberi pelajaran berharga bagi desa-desa lain di Indonesia. Kemajuan berkelanjutan hanya bisa dicapai ketika pemenuhan kebutuhan dasar warga berjalan selaras dengan keterbukaan tata kelola pemerintahan dan keberanian melihat peluang masa depan.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.