
Prasasti Walandit Wonorejo Menghidupkan Semangat Pembangunan
WONOREJO, SINGOSARI – Prasasti Walandit Wonorejo bukan sekadar peninggalan sejarah dari masa Majapahit. Pemerintah Desa Wonorejo menjadikan warisan budaya tersebut sebagai inspirasi untuk membangun desa yang berpijak pada tradisi, tata kelola pemerintahan yang akuntabel, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Di bawah bayang-bayang Gunung Bromo, Desa Wonorejo terus merajut kembali benang sejarah yang sempat terlupakan. Sebagai desa paling timur di Kecamatan Singosari, Wonorejo mewarisi Prasasti Walandit yang mengukuhkan wilayah ini sebagai tanah yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Kini, Pemerintah Desa Wonorejo menghidupkan kembali semangat itu melalui langkah menuju nominasi Desa Adat Nusantara.

Evaluasi APBDes Menjadi Dasar Penyusunan RKP Desa 2027
Namun, menjaga romantisme sejarah saja tidak cukup untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, Tim Fasilitasi APBDes Kecamatan Singosari bersama Tenaga Pendamping Profesional (TPP) menggelar koordinasi dengan Pemerintah Desa Wonorejo. Mereka mengevaluasi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) APBDes Tahun 2025 dan 2026 sebagai dasar menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Tahun 2027.
Selain itu, forum tersebut tidak sekadar membahas kelengkapan administrasi. Para peserta mencermati setiap program, menyesuaikan arah kebijakan, serta memastikan setiap rupiah anggaran mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
BUMDes Berbasis Sejarah dan Ekowisata
Pemerintah Desa Wonorejo memusatkan perhatian pada penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Mereka ingin menjadikan BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi desa yang bertumpu pada potensi budaya, sejarah, dan ekowisata Prasasti Walandit Wonorejo. Dengan pendekatan tersebut, BUMDes diharapkan tidak hanya menjalankan usaha konvensional, tetapi juga mengembangkan wisata edukasi, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal.
Salah seorang perangkat desa menyampaikan bahwa pembahasan anggaran memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menyusun angka.
“Kami tidak sedang mencocokkan angka di atas kertas. Kami sedang merancang jembatan agar kemakmuran yang diwariskan leluhur dapat dirasakan oleh generasi sekarang dan generasi mendatang.”
Selanjutnya, sinkronisasi kebijakan antara pemerintah desa, Tim Fasilitasi APBDes, dan Tenaga Pendamping Profesional menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh program pembangunan berjalan selaras. Sinergi tersebut juga memperkuat kesiapan Desa Wonorejo dalam mengembangkan potensi budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sinergi Menuju Desa Adat yang Mandiri
Pemerintah Desa Wonorejo mengembangkan Prasasti Walandit Wonorejo sebagai identitas desa untuk melahirkan berbagai peluang ekonomi baru, mulai dari wisata sejarah, produk UMKM, hingga kegiatan edukasi budaya. Dengan demikian, warisan leluhur tidak hanya terjaga, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian desa.
Pada akhirnya, Wonorejo membuktikan bahwa status desa adat bukan sekadar simbol masa lalu. Sebaliknya, status tersebut menjadi modal sosial untuk membangun masa depan yang lebih mandiri, adil, dan sejahtera. Dari Prasasti Walandit hingga penyusunan RKP Desa 2027, masyarakat Wonorejo menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan inovasi. Masyarakat Wonorejo tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menjadikannya arah pembangunan bagi generasi yang akan datang.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah praktisi usaha dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang berdomisili di Singosari, Kabupaten Malang. Alumnus SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) tahun 1994 & Universitas Brawijaya 1998,Saat ini menjabat sebagai CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari. Selain aktif di bidang kewirausahaan, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Forum Handarbeni Singhasari (Fondasi), Pembina Paguyuban Batik Singosari, Pembina Paguyuban Batik Lawang, serta menjadi bagian TPP Kecamatan Singosari sejak tahun 2017
Memiliki pengalaman di bidang jurnalistik sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang,memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, UMKM, dan pembangunan berbasis potensi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan dan tulisan, ia berupaya mendorong kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pelestarian warisan budaya lokal untuk mendukung kemajuan desa dan daerah.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.