Opini [DESA MERDEKA] – Bagi sebagian orang, kata “idealisme” itu terdengar berat. Bayangannya langsung ke arah pahlawan yang angkat senjata, aktivis yang demo di jalanan, atau jurnalis kota yang membongkar skandal korupsi miliaran rupiah.
Karena dianggap terlalu berat, akhirnya banyak jurnalis desa yang merasa minder. Mereka merasa “amunisi” pelurunya tinggal setengah, energinya habis buat mikir kepulan asap dapur, dan bensin motornya pas-pasan. Akhirnya, zona nyaman diambil: cukup jadi juru ketik pidato pejabat, pindahkan rilis berita dari grup sebelah, urusan selesai. Toh, desa tetap aman dan rukun.
Padahal, di tingkat perdesaan, idealisme itu wujudnya sangat sederhana. Idealisme desa tidak butuh baku hantam atau “bedil-bedilan” antar-birokrasi.
Lalu, apa itu idealisme bagi seorang jurnalis desa?
Idealisme adalah Menjadi “Penyambung Lidah” Tetangga Sendiri
Di desa, relasi kita itu sangat dekat. Orang yang kita beritakan bisa jadi adalah Kades yang sering ketemu di tahlilan, atau petani yang sawahnya bersebelahan dengan rumah kita.
Fungsi utama jurnalis desa bukanlah menjadi pengkritik buta yang mencari-cari kesalahan Pemerintah Desa. Fungsi kita adalah menjadi jembatan informasi.
Ketika ada program jaminan sosial atau bantuan pupuk diturunkan dari kabupaten, jurnalis desa bertugas mencatat dua hal dengan adil:
- Suara dari Atas (Pemdes): Apa maksud program ini? (Supaya program Kades bisa diketahui publik).
- Suara dari Bawah (Warga): Apakah program ini sudah dirasakan oleh warga yang paling membutuhkan?
Idealisme seorang jurnalis desa diuji di sini: Mau gak kita meluangkan waktu 5 menit saja untuk mendengarkan keluhan atau cerita polos dari warga di warung kopi atau di pinggir sawah?
Jika berita kita hanya berisi kutipan panjang pejabat tanpa ada satu pun suara warga desa, maka berita itu kehilangan “nyawanya”. Berita itu menjadi kaku, dingin, seperti ditulis oleh mesin robot, bukan oleh manusia desa yang punya hati.
Bermain Cantik di Zona Nyaman
Menjadi idealis di desa yang penuh konflik itu gampang, karena masalahnya kelihatan jelas. Tapi menjaga idealisme di desa yang adem ayem, guyub, dan Kadesnya baik, itu jauh lebih sulit. Di sinilah tantangan sesungguhnya. Kita sering terkena sindrom “sungkan”.
Jurnalis desa yang cerdas tahu cara bermain cantik. Kita tidak perlu menyerang pribadi Kades yang sudah baik hati. Kita bisa menuliskan aspirasi warga yang belum kebagian bantuan sebagai “catatan pelengkap” atau “kado evaluasi” agar kinerja Pemdes semakin sempurna. Kritik tidak harus disampaikan dengan marah-marah, tapi bisa dikemas dengan bahasa yang santun khas sosiologi desa.
Peluru Setengah, Tapi Tepat Sasaran
Kita semua tahu, hidup sebagai jurnalis desa itu penuh perjuangan ekonomi. Harga BBM mencekik, dan operasional lapangan sering kali menguras kantong sendiri. Kita maklum kalau amunisi tenaga kita sering kali tinggal setengah peluru.
Namun, setengah peluru itu akan menjadi sangat sakti jika ditembakkan ke sasaran yang pas. Sasarannya bukan perang politik makro, melainkan cerita kemanusiaan (human interest) warga desa kita sendiri.
Ketika kita menulis kisah perjuangan seorang jurnalis desa yang tetap menyuarakan nasib buruh tani di tengah keterbatasan bensin, atau ketika kita berhasil membuat seorang janda tua di pelosok dusun akhirnya didengar oleh Pemdes lewat tulisan kita, di situlah fungsi jurnalis desa mencapai puncaknya.
Kesimpulan: Idealisme Itu adalah Kepedulian
Jadi, jangan bayangkan idealisme sebagai beban yang bikin dahi berkerut. Bagi jurnalis desa, idealisme itu sesederhana rasa peduli. Peduli pada tetangga, peduli pada masa depan desa, dan peduli agar media desa kita tidak berubah fungsi menjadi mading kecamatan yang membosankan.
Yuk, kita isi tangki motor kita, kita jabat tangan Pak Kades dengan senyuman, tapi jangan lupa mampir ke sawah untuk mendengar suara asli dari bumi desa kita.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.