Jepara, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Sebuah inovasi menarik muncul dari Desa Parang, sebuah permata di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Dikenal sebagai penghasil ikan yang melimpah, kini desa ini tengah menjajaki potensi baru: produksi garam laut berkualitas tinggi. Setelah lebih dari sebulan melakukan uji coba produksi skala kecil, hasilnya sungguh menggembirakan. Garam yang dihasilkan menunjukkan kualitas istimewa, bahkan Penjabat (Pj) Camat Karimunjawa, Mu’adz, S.Sos, M.H., memberikan pujian setinggi langit dan menyebutnya sebagai garam laut kualitas “A” – sangat bersih, berkristal bagai kaca bening, dan diyakini memiliki daya saing kuat di pasar.
Keunggulan garam laut Desa Parang tak lepas dari berkah lingkungan alaminya. Air laut di sekitar pulau ini terkenal sangat jernih dan bersih, jauh dari pencemaran limbah industri maupun domestik. Kondisi lingkungan yang terjaga ini menjadi modal utama dalam menghasilkan garam dengan mutu terbaik, berbeda dengan potensi kandungan logam berat yang bisa ditemukan pada garam laut dari perairan yang tercemar.
Namun, ambisi untuk meningkatkan produksi ke skala yang lebih besar menemui kendala klasik: modal. Kepala Desa Parang, Muh Zaenal Arifin, dan Sekretaris Desa, Suyadi, mengungkapkan bahwa untuk menghasilkan garam berkualitas “A” secara massal, dibutuhkan teknologi geomembran. Harga plastik geomembran yang berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 32.000 per meter hingga lokasi Desa Parang menjadi tantangan besar, mengingat satu petak produksi garam bisa membutuhkan puluhan juta rupiah untuk pengadaan material ini.
“Kami sangat berharap ada pihak yang bersedia menjalin kemitraan atau menjadi investor untuk mengembangkan produksi garam ini,” ujar Suyadi. “Kami memiliki lahan dan sumber daya manusia yang memadai, namun keterbatasan APBDesa menjadi kendala utama.”
Pendamping Desa, Miftahul Ulum, memberikan perspektif solusi dengan mengidentifikasi tiga jalur pembiayaan potensial: alokasi APBDesa melalui bantuan alat atau penyertaan modal BUMDes, pembiayaan dari pemerintah melalui pinjaman atau KUR, dan kemitraan dengan pihak ketiga. Meskipun kemitraan swasta memerlukan perhitungan untung rugi yang cermat, potensi keuntungan usaha garam diyakini cukup menjanjikan mengingat bahan baku air laut yang gratis dan selalu tersedia.
Komandan Kodim Kecamatan Karimunjawa yang turut hadir dalam uji coba produksi menekankan pentingnya fokus pada kualitas sebagai nilai jual utama garam Parang, bukan sekadar kuantitas. Ia bahkan menyarankan untuk menjajaki kemitraan dengan eksportir agar potensi garam berkualitas ini dapat dikenal lebih luas. Kisah Desa Parang ini menjadi inspirasi tentang bagaimana potensi alam yang terjaga, dipadukan dengan inovasi dan semangat kewirausahaan, dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat kepulauan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.