Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

DESA · 31 Mar 2026 02:06 WIB ·

Siasat Cerdas Desa Loko Kalada: Putar Uang Lewat Pisang


					Siasat Cerdas Desa Loko Kalada: Putar Uang Lewat Pisang Perbesar

Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Perempuan di Desa Loko Kalada kini bukan lagi sekadar pengurus dapur. Di bawah bendera kelompok usaha “Kreasi Bersama”, mereka berhasil mengubah pisang dan ubi yang awalnya dihargai murah di pasar menjadi produk stik bernilai jual tinggi. Inisiatif ini tidak hanya mendatangkan cuan bagi ibu rumah tangga, tetapi juga menjadi benteng ekonomi agar perputaran uang tidak lari keluar desa.

Marselina Wada, sosok di balik gerakan ini, menyadari bahwa menjual hasil bumi mentah sering kali merugikan petani karena biaya transportasi yang mahal. “Satu tandan pisang isi 10 sisir hanya laku Rp40.000 di pasar, belum potong biaya ojek. Dengan olahan, nilai jualnya melonjak berkali-kali lipat,” ujar Marselina yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Loko Kalada, Senin (30/3/2026).

Inklusi dan Kemandirian Ekonomi Lokal
Keunikan kelompok “Kreasi Bersama” terletak pada semangat inklusivitasnya. Marselina secara khusus merekrut ibu-ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas desa untuk terlibat aktif dalam produksi. Pola produksinya pun dirancang padat karya: bahan baku pisang, singkong, hingga talas dibeli langsung dari kebun warga sekitar.

Strategi ini terbukti ampuh mendorong ekonomi sirkular. Dengan menyerap bahan baku lokal, masyarakat tidak perlu lagi mencari pembeli ke luar desa, dan uang hasil penjualan tetap berputar di antara warga Loko Kalada sendiri.

Mimpi Rumah Produksi Modern
Meski saat ini produksi masih dilakukan secara tradisional, kelompok ini terus berupaya meningkatkan kualitas. Marselina bermimpi bisa meninggalkan penggunaan tungku dan minyak tanah untuk beralih ke peralatan produksi yang lebih higienis dan modern.

“Harapannya kami punya rumah produksi sendiri agar hasilnya lebih menarik pembeli,” ucapnya. Kehadiran peralatan yang memadai diyakini akan mempercepat proses pengolahan dan memperluas jangkauan pasar, sekaligus membuktikan bahwa produk desa mampu bersaing dengan kualitas standar industri.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pemdes Rabasa Perkuat Kapasitas Kader Posyandu Lewat Dana Desa 2026, TPP Malaka Barat Apresiasi Komitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan

29 Juni 2026 - 20:25 WIB

Prasasti Walandit Wonorejo, Warisan Sejarah yang Menggerakkan Pembangunan Desa

28 Juni 2026 - 19:43 WIB

Prasasti Walandit Wonorejo

Bupati Ingkar Janji, Warga Marubun Lokkung Simalungun Terisolasi

27 Juni 2026 - 22:42 WIB

Drs. Nasril Menang Pilwana Guguak Kuranji Hilir, Diwarnai Protes Warga yang Kehilangan Hak Pilih

27 Juni 2026 - 20:43 WIB

Dari Warga untuk Desa: Warnai Musdes RKP 2027 Tamanharjo

25 Juni 2026 - 20:01 WIB

Rumah Desa Sehat Banjararum: Target Pangkas Gizi Buruk 50 Persen

25 Juni 2026 - 02:50 WIB

Trending di DESA