Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 16 Mar 2026 09:01 WIB ·

Masjid Darul Huda Ubah Santunan Jadi Jembatan Sekolah


					Masjid Darul Huda Ubah Santunan Jadi Jembatan Sekolah Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Ramadan di Masjid Darul Huda, Kecamatan Nanggalo, tidak lagi sekadar ritual berbagi amplop. Tahun ini, pengurus masjid mengambil langkah radikal dengan memetakan masa depan anak yatim piatu di lingkungannya. Bukan sekadar bantuan untuk baju Lebaran, masjid yang berlokasi di Jalan Wirasakti ini mulai mengintegrasikan santunan dengan misi pengentasan putus sekolah.

Pada penyaluran santunan Sabtu (14/3/2026) lalu, tercatat 60 anak menjadi penerima manfaat. Namun, sorotan utama tertuju pada data yang dikumpulkan pengurus: ditemukan empat anak berkebutuhan khusus dan dua anak yang telah putus sekolah di antara mereka.

Lebih dari Sekadar Kebutuhan Lebaran
Ketua Masjid Darul Huda, Muhammad Pathi, menegaskan bahwa bantuan ini adalah amanah rutin yang dilakukan tiga kali dalam setahun. Meskipun tujuan jangka pendeknya adalah memastikan anak-anak yatim bisa tersenyum saat Idul Fitri, visi jangka panjangnya jauh lebih ambisius.

“Harapan kami santunan ini bermanfaat untuk kebutuhan Lebaran, namun lebih dari itu, kami melihat ada tanggung jawab moral terhadap kelangsungan hidup mereka,” ujar Pathi, Senin (16/3/2026).

Transformasi Menjadi Masjid Ramah Anak
Koordinator Penyaluran Santunan, Wanda Leksmana, mengungkapkan bahwa Masjid Darul Huda sedang bertransformasi menjadi pusat solusi sosial melalui konsep Masjid Ramah Anak. Temuan adanya anak putus sekolah tidak akan dibiarkan menjadi statistik semata.

Pihak masjid bertekad menjalin kerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk memfasilitasi pendidikan kesetaraan bagi anak-anak tersebut. Dengan skema ini, masjid berfungsi sebagai kurator yang menyambungkan anak yatim dengan akses pendidikan formal maupun non-formal yang selama ini terputus karena kendala biaya atau situasi keluarga.

Pola ini menunjukkan bahwa masjid di daerah urban seperti Nanggalo mulai meninggalkan gaya manajemen tradisional dan beralih ke pemberdayaan masyarakat yang lebih terukur dan solutif.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 9,550 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Simalakama di Kaki Bromo: Saat Penegak Adat Dibui Hukum Negara

8 Agustus 2026 - 06:26 WIB

Ironi Desa Budaya Bantul Antara Pelestarian Dan Birokrasi

7 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Sengketa Lahan Lempuing Jaya dan Sengkarut Arsip Desa

31 Juli 2026 - 20:33 WIB

Nestapa Subari: Sisi Lain Keadilan Restoratif Desa Trangkil

31 Juli 2026 - 07:37 WIB

Minta Maaf Tak Cukup, Sanksi Adat Menanti di Kuranji

30 Juli 2026 - 09:35 WIB

Menanti Negara Mengakui Batas Administrasi Wilayah Adat Desa Darmo

29 Juli 2026 - 16:27 WIB

Trending di SOSBUD