Jakarta [DESA MERDEKA] – Setelah menempuh marathon birokrasi selama 40 hari tanpa hasil pasti, 805 Tenaga Pendamping Profesional (TPP) yang tersisih dari SK 2026 memutuskan mengubah haluan perjuangan. Menjelang bulan suci Ramadan, para pejuang desa ini memilih “mengetuk pintu langit” sebagai senjata terakhir setelah pintu-pintu kekuasaan di bumi seolah tak bergeming.
Satu setengah bulan terakhir, segala prosedur telah ditempuh. Mulai dari Ombudsman, Inspektorat, DPR, DPD, hingga Kantor Staf Presiden (KSP) telah didatangi. Surat resmi dikirim, audiensi dijalani, dan berkas setebal seratus halaman telah diserahkan. Namun, nasib 805 pendamping aktif ini masih terkatung-katung tanpa kepastian penghasilan.
Ketua Umum Relawan Pendamping Desa Nusantara (RPDN), Suryokoco, menyebut angka 40 hari sebagai momentum sakral. “Dalam tradisi kita, 40 hari adalah penanda. Hari ini kami memperingati harapan yang masih diperjuangkan untuk tetap hidup,” ujarnya dalam diskusi Ngobrol Desa, Rabu (12/2/2026).

Strategi Spiritual di Ambang Ramadan
Memasuki pekan tenang menjelang Ramadan, Rpdn tidak lagi mengandalkan lobi-lobi politik semata. Mereka bergeser ke strategi tertinggi: penyerahan diri secara kolektif. Menariknya, mereka tidak memilih jalur protes keras atau demonstrasi yang memicu kemacetan.
Suryokoco justru menginstruksikan para pendamping untuk mengirimkan doa baik kepada para pengambil kebijakan. Strategi out of the box ini didasari keyakinan bahwa kebaikan yang dikirimkan akan berbalik menjadi kemudahan bagi mereka.
“Kami sudah ketuk semua pintu manusia yang terbuat dari kayu dan besi. Sekarang saatnya mengetuk pintu yang tak terlihat, namun paling berkuasa,” tambah Suryokoco.
Bertahan Tanpa SK di Tengah Bulan Suci
Ramadan tahun ini terasa lebih berat bagi 1.102 TPP terdampak (dengan 805 orang yang diverifikasi aktif berjuang). Jika biasanya mereka sibuk mengawal Musrenbang dan anggaran desa, kini mereka harus bertahan tanpa status hukum dan penghasilan tetap.
Cak Itong, pendamping asal Jember yang merupakan penyandang disabilitas, menegaskan bahwa ikhtiar lahiriah sudah maksimal. Baginya, tahap spiritual ini adalah wujud keyakinan bahwa “alam akan bekerja dengan caranya sendiri” jika keadilan memang harus tegak.
Perjuangan ini bukan lagi sekadar mencari pekerjaan, melainkan mempertahankan marwah pendampingan desa yang telah mereka bangun bertahun-tahun. Bagi mereka, jika pintu Istana belum terbuka lebar, maka momentum Ramadan adalah waktu terbaik untuk memastikan pintu langit tetap terbuka bagi keadilan mereka.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.