Jakarta [DESA MERDEKA] – Indonesia kehilangan salah satu pemikir strategis terbaiknya. Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo mengembuskan napas terakhir pada Minggu malam, 8 Februari 2026. Kepergian sosok yang dikenal sebagai “Jenderal Intelektual” ini menyisakan duka mendalam sekaligus refleksi kritis bagi masa depan institusi TNI di tengah iklim demokrasi.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mengenang Agus Widjojo bukan sekadar sebagai perwira tinggi, melainkan jembatan emas antara militer dan supremasi sipil. Menurut Didik, Agus adalah tokoh kunci yang dengan gagah berani merancang penutupan era Dwifungsi ABRI, demi mengembalikan TNI pada marwah profesionalisme pertahanan negara.
“Agus Widjojo adalah perwira intelektual yang fasih membaca perubahan zaman. Ia menjunjung tinggi profesionalisme TNI sekaligus supremasi sipil sebagai pilar masyarakat modern,” ungkap Prof. Didik, Senin (9/2/2026).

Melawan Arus Politik Praktis
Sudut pandang Agus Widjojo terhadap relasi militer dan politik tergolong radikal pada masanya. Ia konsisten berpendapat bahwa keterlibatan TNI dalam politik praktis justru akan melemahkan kekuatan institusi itu sendiri. Bagi almarhum, kekuatan militer sejati justru lahir dari rahim demokrasi, di mana tentara tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan menjadi “penjaga kekuasaan” kelompok tertentu.
Prof. Didik mencatat bahwa kenyamanan kalangan intelektual sipil dalam berdiskusi dengan Agus adalah bukti bahwa militer tidak harus selalu tampil kaku. “Ia mampu membangun dialog sehat. Pemikirannya bernas, santun, namun sangat tegas dalam prinsip demokrasi modern,” tambahnya.
Krisis “Tentara Intelektual” di Generasi Baru
Di balik penghormatannya, Prof. Didik memberikan catatan kritis yang menohok. Ia menempatkan Agus Widjojo setara dengan tokoh sekaliber Sajidiman Suryohadiprodjo atau Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, ia menyayangkan fenomena hari ini di mana sosok perwira dengan kapasitas intelektual serupa semakin sulit ditemukan.
“Pada generasi perwira saat ini, kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus Widjojo. Ia adalah figur komprehensif yang membentuk cara pandang elite dalam memahami dinamika geoekonomi dan geopolitik melalui Lemhannas,” jelas Prof. Didik.
Kepergian mantan Gubernur Lemhannas ini menandai hilangnya “dapur pemikiran strategis” negara yang langka. Agus Widjojo telah membuktikan bahwa seragam militer tidak menghalangi seseorang untuk berpikir demokratis. Kini, tantangan besar berada di pundak generasi penerus TNI: apakah mereka mampu melanjutkan warisan intelektualisme Agus atau justru terjebak dalam pragmatisme kekuasaan yang dulu sangat ia hindari.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.