Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Gerakan Relawan Bandung Garuda (GRPG) Jawa Tengah menggelar acara bakti sosial (baksos) ke-7 di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Dusun Gedong, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen GRPG dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, sekaligus merayakan ulang tahun ke-7 Sekolah Tani GRPG Jawa Tengah.
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pengampu pesantren, Ustaz Winarno, Kepala Dusun Gedong, serta perwakilan dari Sahabat Khitan Indonesia (SKI), Hatra Kabupaten Semarang, dan berbagai komunitas lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Bakti Sosial GRPG Jateng menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh donatur dan kontributor yang telah mendukung acara ini. Ia berharap segala kebaikan yang telah diberikan akan dilipatgandakan pahalanya.
“Kami hanya bisa mendoakan, semoga Bapak/Ibu semuanya diberikan kemudahan rezeki, panjang umur, dan mendapatkan keberkahan,” ujarnya.
Kegiatan bakti sosial ini mencakup beberapa program utama, di antaranya adalah khitanan massal gratis yang didukung oleh tim medis dari SKI. Selain itu, ada juga pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis hasil kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, serta terapi kesehatan dari Hatra Kabupaten Semarang.
Tak hanya itu, GRPG juga mengadakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, seperti pelatihan membuat sabun, budidaya waluh yang bisa diolah menjadi berbagai produk olahan, hingga pembuatan bakpao karakter.
Acara ini juga menjadi panggung untuk merayakan ulang tahun ke-7 Sekolah Tani GRPG Jateng. Dalam sambutannya, perwakilan dari GRPG Jateng mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. “Di usia yang ke-7, Sekolah Tani ibarat anak yang sudah memasuki usia SD. Jika di usia sebelumnya belajar bersosialisasi, kini saatnya belajar membaca dan menulis,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa “membaca” diartikan sebagai kemampuan untuk memahami kebutuhan dan potensi masyarakat, sementara “menulis” adalah kemampuan untuk memetakan potensi tersebut agar terwujud kemandirian pangan di setiap keluarga dan kampung.
Menurutnya, kemandirian pangan adalah kunci ketahanan masyarakat menghadapi krisis. Ia juga menegaskan bahwa modal utama dalam berbuat kebaikan adalah niat dan tekad yang kuat. Mengutip nasihat dari mendiang Gus Dur, ia menyampaikan, “Teruslah berjalan meskipun tidak ada jalan. Karena dengan terus berjalan sejatinya kita telah membuka jalan.”
Pesan ini menjadi penutup yang menginspirasi, mengajak semua pihak untuk tidak lelah berbuat kebaikan. Acara ditutup dengan yel-yel penuh semangat: “Sekolah Tani, bertani untuk negeri! GRPG, jaya, jaya, jaya!”



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.