Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat [DESA MERDEKA] – Warisan budaya tenun tradisional di Dusun Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, kini bersiap naik kelas. Melalui sentuhan inovasi teknologi, para perajin tenun setempat akan memanfaatkan Virtual Reality (VR) sebagai strategi pemasaran modern. Inisiatif ini digagas oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Mataram (UNRAM) yang berupaya mengoptimalkan potensi produk budaya lokal agar mampu bersaing di pasar global.
Program ini diwujudkan melalui sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang dipimpin oleh Dr. Baiq Handayani Rinuastuti, SE., MM., dari UNRAM. Acara ini melibatkan berbagai pihak penting, mulai dari Kepala Desa Rembitan, tokoh adat, para perajin tenun, hingga pemuda setempat. Tujuannya satu: menciptakan strategi promosi yang tidak hanya efektif, tetapi juga otentik.
VR Bukan Pengganti, Tapi Pelengkap Pemasaran
Dr. Baiq Handayani menjelaskan bahwa tenun Sasak bukan sekadar produk ekonomi, melainkan identitas budaya yang sarat makna. Ia menegaskan, teknologi VR hadir bukan untuk menggantikan proses pemasaran tradisional, melainkan sebagai alat pelengkap. “Kami percaya tenun adalah identitas budaya yang patut dijaga. Kehadiran teknologi VR bukan untuk menggantikan cara lama, tetapi melengkapi strategi pemasaran yang sudah ada,” ujarnya.
Melalui VR, calon pembeli di mana pun, baik di dalam maupun luar negeri, akan diajak merasakan pengalaman interaktif seolah-olah mereka berada langsung di Dusun Sade. Pengalaman ini mencakup melihat proses menenun yang rumit, merasakan suasana desa yang autentik, hingga mendengarkan kisah filosofis di balik setiap motif kain. Keterbatasan literasi teknologi dan akses pasar yang selama ini menjadi tantangan bagi perajin diharapkan dapat teratasi dengan inovasi ini.
Memadukan Teknologi dengan Nilai Budaya
Dalam FGD, tim dan warga berdiskusi mendalam tentang motif-motif khas yang akan diabadikan dalam konten VR. Motif-motif tersebut antara lain Wayang (simbol saling ketergantungan), Subahnale (representasi keikhlasan), Serat Penginang (melambangkan kebersamaan), Keker (simbol cinta dan keharmonisan), dan Bintang Empat (penunjuk arah hidup). Setiap motif akan disajikan dengan narasi budaya lokal, menjadikan konten promosi tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya makna.
Tim UNRAM memastikan bahwa program ini dirancang berdasarkan kebutuhan dan masukan langsung dari masyarakat. “Kami ingin program ini lahir dari cerita dan kebutuhan masyarakat sendiri. Teknologi hanya akan efektif jika akarnya kuat di budaya lokal,” tegas Dr. Baiq Handayani.
Kepala Desa Rembitan, Lalu Minaksa, menyambut baik kolaborasi ini. Ia berharap pemanfaatan teknologi VR akan meningkatkan daya saing tenun Sade di pasar nasional maupun internasional, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah ada secara turun-temurun.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.