Bangkalan [DESA MERDEKA] – Selain dikenal sebagai pekerja besi tua, Kabupaten Bangkalan memiliki satu profesi unik yang banyak digeluti warganya: tukang pangkas rambut. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan ninja bagi ribuan warga Madura untuk mengadu nasib di tanah rantau, dari Sabang hingga Merauke. Di berbagai penjuru negeri, Anda akan mudah menemukan “tokang cokor” atau “tongkal polka” (istilah lokal untuk tukang cukur) asal Madura.
Profesi Pangkas Rambut, meski terkesan sederhana, ternyata menyimpan kekuatan unik. Mereka adalah satu-satunya profesi yang bisa “mengatur” kepala orang lain. Dengan keahlian gunting dan sisir, seorang tukang cukur bisa memosisikan dan membentuk gaya rambut pelanggannya. Kepatuhan pelanggan pada arahan tukang cukur sangat esensial agar hasil akhir cukuran memuaskan dan meningkatkan rasa percaya diri.
Salah satu kisah di balik fenomena ini datang dari Fathur Rosi, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan. Pria berusia 42 tahun ini telah menekuni pekerjaan sebagai pemangkas rambut sejak tahun 1999 di luar daerah. Fathur yang ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM) pada Rabu (19/4) lalu sedang pulang kampung jelang Ramadan. Untuk mengisi waktu luang, ia membuka jasa pangkas rambut di depan rumahnya.

“Sementara masih mangkas rambut di sini dulu. Baru nanti setelah Lebaran akan kembali merantau untuk bekerja sebagai tukang pangkas rambut,” ujarnya, sembari melayani pelanggan dengan cekatan.
Awalnya, Fathur melihat pekerjaan ini hanya sebagai batu loncatan sembari mencari kesempatan lain. Namun, kenyamanan dan keahlian yang terus terasah membuat ia mantap melanjutkan profesi pangkas rambut. “Sampai sekarang ini masih tetap menjadi tukang pangkas rambut,” imbuhnya, menunjukkan keteguhan hati para perantau Madura.
Fathur memulai perjalanan sebagai tukang cukur sesaat setelah lulus SMA. Tanpa keinginan untuk kuliah, ia langsung mengikuti iparnya merantau ke Papua. Di sana, ia belajar memangkas rambut hingga mahir dalam waktu sekitar tujuh bulan. Keahlian ini membawanya melalang buana ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Tuban, Bojonegoro, Maluku, Jayapura, hingga Papua Pegunungan, selalu dengan profesi yang sama.
Pengalaman di Papua Pegunungan menjadi yang paling berkesan baginya, meski bukan karena keuntungan semata. Konflik antarkelompok bersenjata di wilayah tersebut kerap memaksa tempat pangkas rambutnya tutup demi keamanan. Ini menunjukkan tantangan unik yang dihadapi para perantau Madura di beberapa daerah.
Fenomena tukang cukur asal Madura ini bukan hanya dialami Fathur. Moh. Nikmat, Kasi Pemerintahan Desa (Pemdes) Bilaporah, mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen atau 2.000 dari 5.000 jiwa penduduk Desa Bilaporah bekerja sebagai pemangkas rambut. Selain Bilaporah, desa-desa lain di Kecamatan Socah, seperti Jaddih dan Socah, serta Desa Kramat di Kecamatan Kota Bangkalan, juga dikenal sebagai sentra para penggunting rambut andal.
Warga desa-desa ini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Surabaya, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Menariknya, keterampilan memangkas rambut ini umumnya tidak didapat dari pendidikan formal, melainkan secara otodidak. Mereka belajar dari teman atau kerabat yang lebih berpengalaman sebelum akhirnya berani membuka usaha di perantauan.
Menurut Moh. Nikmat, profesi pangkas rambut dianggap mudah dan nyaman, tidak seperti pekerjaan kasar lainnya. Selain itu, pendapatan yang didapat di perantauan juga relatif besar, baik bagi yang bekerja ikut orang lain maupun yang telah memiliki usaha pangkas rambut sendiri. Kisah Fathur Rosi dan ribuan perantau Madura lainnya adalah cerminan kegigihan dan adaptasi masyarakat dalam menghadapi sulitnya lapangan kerja, sekaligus menunjukkan bagaimana ekonomi desa ditopang oleh geliat profesi pangkas rambut di kota-kota besar.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.