Agam, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Di tengah puing pemulihan pascabencana di Kabupaten Agam, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, membawa pesan yang tidak biasa. Dalam kunjungan Safari Ramadan di Masjid Raya Tantaman, Palembayan, Selasa (3/3/2026), Vasko secara jujur mengakui bahwa sebesar apa pun anggaran dan bantuan fisik dari pemerintah, hal itu tidak akan pernah bisa sepenuhnya menyembuhkan trauma atau menggantikan nyawa dan kenangan yang hilang.
Pernyataan ini menjadi sorotan karena menyentuh sisi psikologis korban bencana yang sering kali terlupakan di balik tumpukan bantuan logistik. “Apa pun yang dibuat pemerintah, tidak akan pernah bisa mengganti apa yang dialami Bapak dan Ibu sekalian,” ujar Vasko dengan nada getir setelah menyaksikan langsung kondisi warga di sepanjang perjalanan menuju lokasi.
Lebih dari Sekadar Hunian Tetap
Pemerintah Provinsi bersama Pemkab Agam memang tengah berpacu menyelesaikan transisi dari Hunian Sementara (Huntara) menuju Hunian Tetap (Huntap). Namun, bagi Vasko, pekerjaan rumah terbesar bukan hanya soal mendirikan dinding rumah, melainkan memulihkan semangat hidup warga yang kehilangan harta benda hingga anggota keluarga.
Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, mengamini beratnya beban di Palembayan. Wilayah ini termasuk yang terdampak paling parah dengan kerusakan infrastruktur masif dan korban jiwa. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan warga tidak terlalu lama mendekam di Huntara agar stabilitas ekonomi dan sosial keluarga kembali normal.
Masjid sebagai Ruang Pulih Bersama
Dalam momentum Ramadan ini, Vasko mengajak masyarakat menjadikan masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan pusat rehabilitasi sosial. Ia menekankan bahwa solidaritas yang lahir dari masjid adalah kunci utama untuk bangkit dari keterpurukan bencana.
Sebagai bentuk dukungan nyata untuk pusat kegiatan masyarakat tersebut, Wagub menyerahkan bantuan tunai Rp25 juta dan 40 mushaf Al-Qur’an untuk Masjid Raya Tantaman. Langkah ini diharapkan mampu membantu kelanjutan pembangunan fisik masjid yang sempat terkendala biaya, sekaligus menghidupkan kembali pembinaan generasi muda di Jorong Tantaman.
Kunjungan ini diakhiri dengan suasana hangat, membuktikan bahwa kehadiran pemimpin di tengah bencana bukan sekadar soal seremonial, melainkan tentang validasi rasa sedih dan penguatan komitmen untuk tumbuh kembali bersama masyarakat.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.