Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESAMERDEKA] – Suasana silaturahmi Ramadhan SDI Miantuu di Dusun Miantuu berlangsung khidmat saat aroma air asin pesisir menyusup melalui jendela kaca UPT SDI Miantuu No.132, Desa Lamantu, Kecamatan Pasimarannu. Di dalam ruang kelas yang biasanya riuh dengan suara siswa menghafal pelajaran, suasana siang itu berubah menjadi teduh dan penuh kekeluargaan.
Bukan bangku dan meja belajar yang tampak berjajar kaku, melainkan deretan kursi yang disusun rapi melingkar. Di sana, para guru, orang tua murid, dan tokoh masyarakat duduk berdampingan dalam sebuah agenda silaturahmi Ramadhan yang hangat. Di sekolah dasar yang menjadi tumpuan harapan generasi muda di wilayah kepulauan ini, Ramadhan dimaknai lebih dari sekadar ritual ibadah pribadi—ia adalah momentum untuk memperkuat kembali simpul sosial.

Pentingnya Silaturahmi Ramadhan SDI Miantuu bagi Karakter Siswa
Mengangkat tema “Menebar Kebaikan dengan Silaturahmi untuk Meraih Keberkahan di Bulan Ramadhan,” kegiatan ini mengirimkan pesan kuat dari beranda Pasimarannu: bahwa pendidikan sejati melampaui papan tulis dan buku teks. Ia adalah tentang merawat empati dan menjaga harmoni di tengah masyarakat pesisir.
Kepala UPT SDI Miantuu No.132, Kamaluddin, S.Pd, berdiri di hadapan warga sekolah dengan pesan yang menyentuh sanubari. Baginya, silaturahmi di pulau ini adalah “napas” kehidupan yang membawa banyak keberkahan.

“Melalui silaturahmi, kita tidak hanya mempertemukan fisik, tetapi juga menautkan hati. Allah menjanjikan rezeki yang luas, umur yang penuh berkah, serta kasih sayang-Nya bagi mereka yang menjaga hubungan baik,” ujar Kamaluddin dengan nada yang dalam dan penuh penekanan.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi yang tulus antara pihak sekolah dan wali murid akan melahirkan rasa saling percaya. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, masyarakat akan lebih mudah bahu-membahu dalam mendukung proses pendidikan anak-anak mereka.
Menjemput Cahaya di Sisa Ramadhan
Di tengah diskusi yang mengalir tenang di bawah atap kelas, Kamaluddin juga mengajak hadirin merenungi esensi Ramadhan sebagai madrasah spiritual. Ia mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar di bawah terik matahari kepulauan, melainkan latihan kesabaran, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

“Barang siapa yang berpuasa dengan ikhlas, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Selain itu, setiap amal kebaikan di bulan suci ini akan dilipatgandakan pahalanya,” jelasnya di hadapan para hadirin yang menyimak dengan saksama.
Ia juga menekankan pentingnya mengejar keutamaan malam Lailatul Qadar—malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Kamaluddin mengajak seluruh warga sekolah untuk memanfaatkan sisa bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah serta menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Damai dari Pesisir Lamantu
Pertemuan tersebut ditutup dengan ajakan untuk saling membuka pintu maaf. Bagi para siswa, pemandangan ini menjadi pengalaman berharga yang tidak ditemukan dalam kurikulum formal. Mereka melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai kebersamaan dan kerendahan hati dipraktikkan secara nyata oleh orang tua dan guru mereka.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, tradisi silaturahmi di sekolah kepulauan ini menjadi jangkar yang kuat. Ia membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang berakhlak dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama.

Saat matahari mulai bergeser ke ufuk barat Dusun Lamantu, doa bersama dipanjatkan. Dari balik jendela kaca ruang kelas sederhana di Timur Pasimarannu ini, sebuah harapan besar terus dipupuk: bahwa dari sekolah di ujung kepulauan, akan lahir generasi masa depan yang tidak hanya hebat dalam ilmu, tetapi juga lembut dalam pekerti.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.