Tuntang, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Angka pernikahan anak dan kehamilan tidak direncanakan di wilayah Kabupaten Semarang menuntut aksi nyata langsung dari akar rumput. Kecamatan Tuntang, yang secara geografis membentang seluas 56,24 kilometer persegi dengan topografi bergelombang, perbukitan curam, hingga tepian Danau Rawa Pening, menghadapi tantangan aksesibilitas yang nyata. Jarak antardusun yang dipisahkan oleh lembah dan aliran hulu Sungai Tuntang sering kali membuat sosialisasi program terhambat. Namun, tantangan ini dijawab dengan memaksimalkan peran aktif para remaja di 16 desa sebagai ujung tombak informasi.
Irfan Fahrul Razi, Duta Genre Kecamatan Tuntang asal Desa Watu Agung, bergerak melintasi batas-batas geografis tersebut untuk mengedukasi warga. Melalui gerakan Genre Srawung, ia menembus wilayah seperti Desa Gedangan guna memimpin penyuluhan pencegahan pernikahan dini.
“Banyak remaja yang sudah menikah, kemudian ada juga yang hamil duluan. Hal itu yang menjadi faktor utama kita untuk bisa melakukan penyuluhan,” kenang Irfan mengenai kondisi lapangan yang memicu gerakannya.
Walau terkendala mobilitas dan wilayah kabupaten yang sangat luas, Irfan tetap turun ke Desa Ndele untuk mendampingi posyandu remaja, mengedukasi ibu-ibu terkait keluarga berencana, hingga melatih pemuda Karang Taruna.

Mengubah Seremonial Menjadi Kebermanfaatan
Pemerintah Kecamatan Tuntang menegaskan bahwa pemberdayaan ini harus membuahkan dampak konkret bagi masyarakat desa. Camat Tuntang, Dhani Ardianto, menyatakan bahwa pemilihan Duta Genre bukan sekadar ajang seremonial mengenakan selempang penghargaan di atas panggung. Mengingat letak geografis desa-desa yang tersebar, kader pemuda dari rahim masyarakat sendiri dinilai jauh lebih efektif untuk merangkul warga lokal.
“Nilai dari Duta Genre ini adalah tidak hanya mereka memakai selempang saja, tapi utamanya mereka akan bekerja membantu dari pemerintah untuk melaksanakan program-program pemerintah,” tegas Dhani Ardianto.
Kader muda ini dipersiapkan menjadi narasumber bagi kelompok sebayanya guna menekan angka stunting serta kenakalan remaja di dusun-dusun terpencil.
Komunikasi antar-remaja dinilai lebih efektif karena mereka dapat bertindak sebagai konselor sebaya tempat mencurahkan isi hati, menghapus jarak psikologis sekaligus jarak geografis.
Sokongan Industri Lokal demi Keberlanjutan
Gerakan penyelamatan generasi muda di pelosok pedesaan Tuntang ini mendapat dukungan penuh dari sektor industri setempat. Keterbatasan anggaran serta kendala mobilitas daerah disiasati melalui kolaborasi erat dengan pihak swasta dan BUMN. Salah satu penyokong utama yang konsisten mengawal keberlanjutan pembinaan ini adalah PLTA Jelok, infrastruktur energi legendaris yang memanfaatkan derasnya aliran air Sungai Tuntang.
Eko Setiawan, Assistant Manager PLTA Jelok, mengonfirmasi komitmen tersebut. Menurutnya, program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan memang dirancang untuk menyentuh kebutuhan vital warga di sekitar pembangkit.
“CSR itu sebagai bentuk kepedulian dari PT PLN Indonesia Power khususnya UBB Merica dalam hal ini melalui PLTA Jelok untuk warga masyarakat di sekitar pembangkit,” jelas Eko Setiawan.
Sinergi pentahelix antara kreativitas pemuda desa, kebijakan taktis kecamatan, dan dana CSR industri ini menjadi formula utama Kecamatan Tuntang dalam membentengi desa dan mencetak generasi emas yang sehat, cerdas, dan ceria.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.