Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

GAYA HIDUP · 7 Agu 2026 11:12 WIB ·

Saat Orang Baik Memilih Diam: Menghidupkan Kembali Alarm Desa


					Saat Orang Baik Memilih Diam: Menghidupkan Kembali Alarm Desa Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Di era digital, sebuah desa bisa luluh lantak bukan hanya karena terjangan banjir bandang, melainkan oleh desas-desus keliru yang menyebar lebih cepat daripada aliran air permukaan. Ketika sebuah informasi palsu (hoaks) dilempar ke grup WhatsApp warga tanpa penyaring, kepanikan massal bisa langsung pecah dalam hitungan detik.

Menghadapi ancaman yang tak kasat mata ini, benteng pertahanan terkuat sejatinya tidak berada di tangan aparat, melainkan pada keberanian warga desa untuk saling peduli dan menegur dalam kebaikan.

“Mengapa kemaksiatan dan kekacauan semakin meluas? Karena sering kali orang-orang baik memilih diam dan tidak mengambil peran,” cetus Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, di sela-sela kegiatan Peningkatan Kapasitas Kewaspadaan Dini Masyarakat, Kamis (6/8/2026).

Pernyataan Muhidi ini seolah menjadi tamparan keras bagi realitas sosial hari ini. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat modern cenderung abai dan menutup mata terhadap dinamika di sekitar mereka. Padahal, gesekan sosial, kenakalan remaja, hingga kepanikan bencana acap kali berakar dari hilangnya komunikasi persuasif antar-tetangga.

Budaya Tabayun di Atas Secangkir Kopi
Bagi Muhidi, kewaspadaan dini tidak selalu bicara soal latihan militer atau pos penjagaan yang kaku. Hal itu bisa dimulai dari hal sederhana: menghidupkan kembali budaya tabayun atau verifikasi informasi di sela-sela obrolan ronda malam atau saat berkumpul di kedai kopi desa.

“Kalau ada informasi, jangan langsung dipercaya atau disebarkan. Cek dulu kebenarannya, dari mana sumbernya, apa manfaatnya,” tegas Muhidi.

Langkah kecil ini, jika dilakukan secara konsisten oleh komunitas desa, akan menjadi perisai paling ampuh untuk memutus rantai penyebaran hoaks yang kerap memicu konflik horizontal.

Lebih dari sekadar menangkal berita bohong, kepekaan kolektif ini juga menjadi modal utama dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang kerap mengintai wilayah Sumatera Barat beberapa waktu terakhir. Ketika warga memiliki kepedulian tinggi, tanda-tanda alam seperti kenaikan debit air sungai di hulu akan cepat diinformasikan dari mulut ke mulut secara akurat, bukan melalui narasi hoaks yang menakut-nakuti.

Menegur Tanpa Harus Memukul
Salah satu tantangan terbesar dalam mengaktifkan sistem keamanan lingkungan (Siskamling) sosial adalah ketakutan warga untuk menegur kekeliruan karena alasan hak asasi atau privasi. Menjawab tantangan tersebut, Muhidi menekankan pentingnya pendekatan dialogis yang santun.

“Kalau ada anak-anak kita yang mulai melakukan hal-hal yang tidak baik, panggil dan ajak bicara dengan baik. Tidak perlu dengan kekerasan,” tambahnya.

Kewaspadaan dini adalah investasi sosial. Ketika orang-orang baik di tingkat nagari dan desa memutuskan untuk kembali bersuara, peduli, dan berani meluruskan informasi yang bengkok, maka kesejahteraan dan rasa aman bukan lagi sekadar impian di atas kertas birokrasi, melainkan realitas yang bisa dirasakan setiap hari.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Siasat Tuntang Bentengi Desa dari Bahaya Pernikahan Dini

8 Agustus 2026 - 05:14 WIB

Trending di GAYA HIDUP