Magelang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Warisan luhur Mataram Kuno kini tak lagi hanya tersimpan dalam buku sejarah. Dalam diskusi kebudayaan yang digelar DPW PMPI Jawa Tengah di Magelang, para tokoh lintas sektor sepakat bahwa kunci pelestarian budaya ada pada keberanian generasi muda memanfaatkan teknologi digital. Budaya bukan lagi sekadar artefak bisu, melainkan identitas yang harus dikonversi menjadi gaya hidup modern dan produktif.
“Teknologi bukan musuh tradisi. Justru digitalisasi adalah alat untuk menghidupkan kembali nilai kemasyarakatan yang mulai tergerus,” ungkap Mbah Tanto, budayawan yang menyoroti Borobudur bukan hanya sebagai monumen, melainkan simbol peradaban yang harus terus dipelihara melalui pembaruan teknologi.
Pangan dan Budaya: Fondasi Kedaulatan Bangsa
Menariknya, diskusi ini menarik benang merah antara sejarah Mataram Kuno dengan isu ketahanan pangan masa kini. Prof. Sugiarto menekankan pentingnya menghidupkan kembali sistem pertanian tradisional yang selama ini terbukti mampu menjaga keseimbangan alam dan manusia.
Kemandirian pangan dinilai sebagai bentuk kedaulatan budaya paling nyata. Generasi muda didorong untuk tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga mempertahankan nilai sosial melalui empati dan gotong royong dalam bertani. “Pertanian tradisional mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, nilai yang jauh lebih tinggi dibanding orientasi keuntungan semata,” jelas Prof. Sugiarto.

Identitas Bangsa dalam Buku ‘Demi Indonesia’
Sebagai langkah konkret, DPW PMPI Jawa Tengah meluncurkan buku berjudul “Demi Indonesia”. Ketua DPW PMPI Jateng, Riril Widi Handoko, menegaskan bahwa kontribusi terhadap negara bisa dimulai dari hal kecil, salah satunya dengan mendokumentasikan riset kebudayaan agar bisa diakses oleh generasi mendatang.
Habib Fata turut menambahkan bahwa kecintaan pada tanah air adalah jangkar agar bangsa tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi. Dengan menjadikan budaya sebagai jati diri, pemuda diharapkan mampu memilah pengaruh luar tanpa kehilangan akar asli leluhur.
Diskusi ini menjadi alarm bagi Gen Z dan milenial: bahwa pemuda adalah cerminan para pendahulu. Kini, tugas besar mereka adalah memastikan budaya pertanian, sejarah agro, dan nilai-nilai Mataram Kuno tetap “bernyawa” di layar gawai maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Pengirim: Imamu Muttaqin dan A’isy Hanif Firdaus
Editor : Sahrul

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.