Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 23 Feb 2025 18:35 WIB ·

Revolusi Budaya: Saat Teknologi Jadi Penyelamat Tradisi Mataram Kuno


					Revolusi Budaya: Saat Teknologi Jadi Penyelamat Tradisi Mataram Kuno Perbesar

Magelang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Warisan luhur Mataram Kuno kini tak lagi hanya tersimpan dalam buku sejarah. Dalam diskusi kebudayaan yang digelar DPW PMPI Jawa Tengah di Magelang, para tokoh lintas sektor sepakat bahwa kunci pelestarian budaya ada pada keberanian generasi muda memanfaatkan teknologi digital. Budaya bukan lagi sekadar artefak bisu, melainkan identitas yang harus dikonversi menjadi gaya hidup modern dan produktif.

“Teknologi bukan musuh tradisi. Justru digitalisasi adalah alat untuk menghidupkan kembali nilai kemasyarakatan yang mulai tergerus,” ungkap Mbah Tanto, budayawan yang menyoroti Borobudur bukan hanya sebagai monumen, melainkan simbol peradaban yang harus terus dipelihara melalui pembaruan teknologi.

Pangan dan Budaya: Fondasi Kedaulatan Bangsa
Menariknya, diskusi ini menarik benang merah antara sejarah Mataram Kuno dengan isu ketahanan pangan masa kini. Prof. Sugiarto menekankan pentingnya menghidupkan kembali sistem pertanian tradisional yang selama ini terbukti mampu menjaga keseimbangan alam dan manusia.

Kemandirian pangan dinilai sebagai bentuk kedaulatan budaya paling nyata. Generasi muda didorong untuk tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga mempertahankan nilai sosial melalui empati dan gotong royong dalam bertani. “Pertanian tradisional mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, nilai yang jauh lebih tinggi dibanding orientasi keuntungan semata,” jelas Prof. Sugiarto.

Foto bersama narasumber & peserta acara parade kebudayaan di Magelang

Identitas Bangsa dalam Buku ‘Demi Indonesia’
Sebagai langkah konkret, DPW PMPI Jawa Tengah meluncurkan buku berjudul “Demi Indonesia”. Ketua DPW PMPI Jateng, Riril Widi Handoko, menegaskan bahwa kontribusi terhadap negara bisa dimulai dari hal kecil, salah satunya dengan mendokumentasikan riset kebudayaan agar bisa diakses oleh generasi mendatang.

Habib Fata turut menambahkan bahwa kecintaan pada tanah air adalah jangkar agar bangsa tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi. Dengan menjadikan budaya sebagai jati diri, pemuda diharapkan mampu memilah pengaruh luar tanpa kehilangan akar asli leluhur.

Diskusi ini menjadi alarm bagi Gen Z dan milenial: bahwa pemuda adalah cerminan para pendahulu. Kini, tugas besar mereka adalah memastikan budaya pertanian, sejarah agro, dan nilai-nilai Mataram Kuno tetap “bernyawa” di layar gawai maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Pengirim: Imamu Muttaqin dan A’isy Hanif Firdaus
Editor : Sahrul

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Septiani: Tulang Punggung yang Berpulang di PT PEI HAI

25 Juli 2026 - 14:27 WIB

Menjaga Hutan Lewat Tradisi Krapyak Saparan di Bonosari

24 Juli 2026 - 14:02 WIB

Merah Putih Bung Karno di Builaran, Berdayakan Ekonomi Kaum Marhaen

22 Juli 2026 - 17:51 WIB

Cahaya Lilin Rumah Sederhana yang Menghidupkan Batik Singosari

17 Juli 2026 - 14:28 WIB

Kebangkitan Batik Singosari

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Trending di SOSBUD