Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 25 Jun 2025 10:43 WIB ·

Rangkiang: Warisan Minangkabau untuk Ketahanan Pangan Indonesia


					Rangkiang: Warisan Minangkabau untuk Ketahanan Pangan Indonesia Perbesar

Oleh: Patriot Rieldo Perdana

Direktur Eksekutif Nagari Institute

Saat dunia dihadapkan pada ancaman krisis pangan global, masyarakat adat Minangkabau sejak ratusan tahun lalu telah memiliki jawaban sederhana namun visioner: rangkiang. Lebih dari sekadar lumbung padi, rangkiang adalah sistem penyimpanan pangan yang dibangun dengan arsitektur adat, berlandaskan filosofi, dan dikelola secara komunal oleh rumah tangga Minang.

Di halaman rumah gadang, berdiri rangkiang-rangkiang kecil yang bentuknya khas—atap bergonjong, bertiang kayu, dan diletakkan terpisah dari bangunan utama. Namun yang paling penting bukan hanya bentuknya, melainkan fungsinya yang terbagi secara cermat. Sesuai dengan peruntukannya, rangkiang terdiri dari empat jenis utama:

1. Rangkiang Si Tinjau Lauik: menyimpan padi yang akan dijual; hasilnya digunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga yang tidak dapat dipenuhi sendiri.

2. Rangkiang Si Bayau-bayau: menyimpan padi untuk konsumsi harian keluarga penghuni rumah gadang.

3. Rangkiang Si Tanggung Lapa: menjadi cadangan menghadapi masa paceklik, musibah, atau darurat pangan.

4. Rangkiang Kaciak: tempat menyimpan padi abuan (benih) dan dana untuk biaya mengolah sawah di musim tanam berikutnya.

Etimologi dan Simbolisme

Menurut sastrawan dan budayawan Minangkabau, A. A. Navis, kata rangkiang berasal dari “ruang hyang,” yang berarti ruang suci bagi Dewi Sri—personifikasi dari dewi padi dalam kepercayaan agraris kuno. Dari asal-usul kata ini, dapat dipahami bahwa rangkiang bukan sekadar gudang fisik, melainkan tempat yang disakralkan—tempat di mana kesejahteraan, kehidupan, dan keberlanjutan disemayamkan.

Simbolisme ini memperkuat posisi pangan sebagai hal yang dihormati dan dijaga bersama, bukan hanya sebagai komoditas ekonomi. Dalam rangkiang terkandung nilai spiritual, budaya, dan tanggung jawab sosial yang tinggi.

Dari Adat ke Arah Strategi Nasional

Rangkiang tumbuh dalam konteks budaya agraris Minangkabau yang menjunjung tinggi prinsip “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.” Hasil panen tidak langsung dikonsumsi, melainkan disimpan untuk kebutuhan jangka panjang. Setiap rumah tangga bertanggung jawab atas cadangan pangannya, namun tetap memiliki ikatan solidaritas sosial yang kuat dalam membantu tetangga atau kaum kerabat yang kekurangan.

Dalam konteks hari ini, rangkiang adalah model ketahanan pangan berbasis rumah tangga dan adat, sesuatu yang kini semakin langka di tengah pola konsumsi instan dan ketergantungan pada pasar global.

Urgensi Revitalisasi

Modernisasi tidak seharusnya menghapus kearifan lokal. Sebaliknya, kearifan seperti rangkiang justru bisa menjadi solusi kontekstual dalam menghadapi tantangan masa depan. Apalagi di tengah iklim yang kian tidak menentu, geopolitik global yang rapuh, dan harga kebutuhan pokok yang tak stabil.

Pemerintah daerah, lembaga adat, dan institusi pendidikan perlu bersinergi untuk menghidupkan kembali praktik rangkiang, baik secara fisik maupun nilai-nilainya: hemat pangan, rencana jangka panjang, dan solidaritas sosial. Di sekolah-sekolah, anak-anak bisa dikenalkan dengan konsep ini sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kemandirian.

Belajar dari Lumbung, Membangun Masa Depan

Ketahanan pangan Indonesia tidak cukup hanya dengan membangun gudang dan memperkuat logistik. Ia harus dibarengi dengan gerakan budaya dan perubahan pola pikir. Dan Minangkabau, dengan filosofi rangkiangnya, telah mewariskan cetak biru yang bisa kita tiru: sistem pangan yang tangguh, berbasis lokal, dan berjiwa kolektif.

Sudah saatnya rangkiang tidak hanya dikenang sebagai artefak budaya, tapi dijadikan inspirasi untuk merancang masa depan pangan Indonesia yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 107 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Akhiri Dominasi Jakarta Saat Desa Mulai Rebut Kendali Narasi

4 Mei 2026 - 12:13 WIB

Mahasiswa KKN: Katalisator atau Sekadar Tamu Dokumentasi Desa?

3 Mei 2026 - 22:01 WIB

Jual Beli Rekomendasi Kerja: Borok Pelayanan Desa Menjelutujung

3 Mei 2026 - 20:59 WIB

Revolusi Jurnalisme Desa: Akhiri Pemujaan Tokoh Demi Kemajuan Warga

2 Mei 2026 - 07:09 WIB

Perut Lapar Mana Bisa Jaga Mangrove: Strategi Cuan Desa Pesisir

1 Mei 2026 - 20:55 WIB

Hentikan Pemujaan Tokoh Dalam Berita Kegiatan Desa

1 Mei 2026 - 07:12 WIB

Trending di OPINI