Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSPOL · 20 Agu 2026 13:33 WIB ·

Memotong Tengkulak: Urgensi Betor Poktan Naga Intan Padang Sago


					Memotong Tengkulak: Urgensi Betor Poktan Naga Intan Padang Sago Perbesar

Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Dari luar, pemandangan bukit-bukit hijau di Nagari Batu Kalang Utara, Kecamatan Padang Sago, tampak begitu asri dan menenangkan. Berada di ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, hamparan pohon kelapa dalam dan deretan pohon karet rakyat tumbuh dengan subur. Namun, bagi para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Naga Intan di Korong Pondok Kayu, keindahan lanskap geografi ini menyimpan tantangan fisik dan ekonomi yang menguras keringat setiap harinya.

Tantangan itu bernama “Jalan Usaha Tani” (JUT). Akses utama dari area perladangan menuju jalan raya ini umumnya berupa tanah padat dan bebatuan setapak yang sangat sempit dan curam. Mobil pikap atau truk mustahil melintasi rute logistik hulu ini.

Kondisi geografis yang ekstrem ini melahirkan masalah klasik yang mencekik dompet petani lokal: tingginya biaya lansir.

Jeratan Biaya Lansir dan Rantai Pengepul
Di Padang Sago, masalah utama sektor agraria bukanlah kelebihan produksi (overproduction), melainkan biaya angkut komoditas dari dalam ladang ke tepi jalan besar yang terlampau tinggi. Selama ini, para petani harus memikul hasil panen secara manual atau menyewa motor biasa dengan muatan sangat terbatas.

Keterbatasan armada angkut ini dimanfaatkan oleh para tengkulak. Mereka sering menawar murah harga kelapa murni di tingkat hulu dengan dalih ongkos angkut keluar ladang sangat menguras energi. Petani tidak punya pilihan selain menyerah pada harga murah, karena jika tidak dijual cepat, komoditas hasil bumi mereka akan rusak.

Melihat kondisi ini, Poktan Naga Intan yang memiliki kelembagaan sehat dan terdaftar resmi di Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN) Kementerian Pertanian mulai bergerak. Mereka sadar, mereka membutuhkan teknologi logistik tepat guna yang ramping untuk jalan setapak, namun bertenaga untuk angkutan massal harian. Pilihan logis jatuh pada Becak Motor (Betor).

Menembus Labirin Birokrasi SIPD-RI
Perjalanan mendapatkan sebuah Betor tidaklah instan. Diperlukan waktu hampir 1,5 tahun bagi Poktan Naga Intan untuk mengubah aspirasi di tingkat bawah menjadi sebuah unit kendaraan nyata di depan mata. Proses bottom-up ini harus melewati jalur birokrasi digital yang sangat ketat melalui koridor Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Sumatera Barat.

Semua bermula saat anggota DPRD Sumbar, Muhammad Yasin, S.STP, menggelar masa reses untuk menjaring aspirasi. Usulan Betor dari Poktan Naga Intan kemudian diinput ke dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD-RI) sebelum pertengahan Maret. Sistem penguncian digital nasional ini menuntut ketepatan waktu; telat satu minggu saja, usulan akan otomatis hangus.

Setelah diinput, usulan tersebut melewati empat gerbang validasi berlapis di tingkat provinsi:

1. Sekretariat DPRD melakukan verifikasi administrasi usulan.
2. Bappeda menyinkronkan usulan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
3. Dinas Pertanian Provinsi Sumbar memverifikasi ke lapangan untuk memastikan Poktan Naga Intan bukan kelompok fiktif.
4. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) mengunci alokasi dana pada ketok palu APBD murni di bulan November.

Barulah pada tahun anggaran berikutnya, Dinas Pertanian mengeksekusi pengadaan unit via e-catalogue, hingga akhirnya Betor tersebut resmi diserahterimakan pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Lompatan Potensi: Menuju Agen Logistik Mandiri
Kehadiran satu unit Betor dari Pokir Muhammad Yasin ini menjadi titik balik bagi Poktan Naga Intan. Berdasarkan analisis efisiensi armada, Betor terbukti menjadi kendaraan paling ideal untuk topografi Batu Kalang Utara jika dibandingkan dengan opsi kendaraan angkut lainnya.

Bila menggunakan sepeda motor biasa, aksesibilitas di jalan sempit memang sangat baik dan biaya operasionalnya rendah. Sayangnya, kapasitas angkut motor biasa sangat kecil, sehingga berisiko tinggi memicu kecelakaan akibat muatan berlebih (overload).

Di sisi lain, mobil pikap atau truk menawarkan kapasitas angkut yang sangat besar. Namun, jenis kendaraan roda empat ini memiliki aksesibilitas yang sangat buruk karena tidak muat melintasi jalan ladang yang sempit, ditambah dengan biaya operasional serta perawatan yang tergolong tinggi.

Di sinilah Becak Motor (Betor) hadir sebagai solusi jalan tengah yang sempurna. Betor adaptif melintasi jalan setapak lebar dengan tingkat aksesibilitas yang baik. Kapasitas angkutnya berada di level sedang—sangat ideal untuk menampung hasil panen harian—sementara biaya operasional dan perawatannya tetap rendah sekaligus efisien bagi kas kelompok tani.

Plt. Wali Nagari Batu Kalang Utara, Hartika Nelis, menegaskan bahwa pemotongan rantai angkut logistik hulu ini akan langsung menaikkan margin keuntungan bersih petani. Apalagi komoditas kelapa dalam dipanen secara berkala sepanjang tahun, sehingga utilitas Betor ini dipastikan akan sangat tinggi setiap harinya.

Langkah ini dirasa kian krusial mengingat kondisi fiskal daerah yang sedang mengalami tantangan berat. Camat Padang Sago, Zarmiati, mengapresiasi penyerahan bantuan logistik yang sangat presisi menyentuh akar masalah riil di tingkat tapak ini.

Kini, dengan modal manajemen kelompok yang solid, Poktan Naga Intan bersiap naik kelas. Betor ini tidak hanya akan digunakan untuk mengangkut hasil kebun anggota, tetapi juga diproyeksikan menjadi unit logistik mini untuk mengumpulkan hasil panen masyarakat Korong Pondok Kayu secara kolektif.

Dengan memegang kendali atas armada angkut sendiri, posisi tawar (bargaining power) petani Padang Sago di hadapan tengkulak kini jauh lebih kuat. Sebuah akhir manis dari perjuangan panjang menembus birokrasi, demi menegakkan kedaulatan ekonomi dari atas roda becak motor.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tangis Pemimpin Sungai Sirah Demi Jembatan Permanen Warga

21 Agustus 2026 - 21:05 WIB

Trending di SOSPOL