Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Siapa sangka markas polisi bisa menjadi pusat pengembangan teknologi kesehatan masyarakat? Di Mapolsek Tompobulu, Polres Bantaeng, sebuah kolaborasi tidak biasa terjadi. Sebanyak 12 Kader Pembangunan Manusia (KPM) dari enam desa berkumpul bukan untuk urusan kriminal, melainkan untuk menguasai aplikasi e-HDW (Human Development Worker) guna memutus rantai stunting. Bimbingan teknis (Bimtek) yang digelar Kamis (5/10/2023) ini menandai babak baru dalam penanganan pertumbuhan anak di Tompobulu. Aplikasi e-HDW besutan Kementerian Desa ini kini hadir dengan versi terbaru yang lebih kompleks, menuntut para kader untuk lebih “melek digital” dalam memantau kesehatan ibu hamil dan balita secara real-time.
Bukan Sekadar Pendek, Tapi Soal Nutrisi Otak
Perlu dipahami bahwa stunting bukan hanya masalah tinggi badan yang kurang. Lebih jauh dari itu, stunting adalah ancaman bagi masa depan karena menghambat perkembangan otak dan fisik anak akibat kekurangan nutrisi kronis. Meskipun tubuh pendek belum tentu stunting, namun ciri khas anak stunting adalah bertubuh pendek yang disertai defisit gizi parah.

Instruksi Kapolri: Polisi Ikut Turun Tangan
Kapolsek Tompobulu, AKP Syafaruddin, menegaskan bahwa kehadiran polisi dalam program kesehatan ini adalah tindak lanjut instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Polisi diperintahkan untuk mendukung penuh program nasional penurunan angka stunting. “Bhabinkamtibmas di tiap desa selalu siap membantu. Konvergensi stunting bukan program sepihak, tapi tanggung jawab kolektif kita semua,” tegas Syafaruddin.

Digitalisasi Data: e-HDW Versi Baru
Abdul Rahmat, selaku Person In Charge (PIC) wilayah Tompobulu, menjelaskan bahwa kader desa kini memikul tanggung jawab besar sebagai garda terdepan pendataan. Penggunaan aplikasi e-HDW tahun ini mengalami perubahan signifikan pada menu dan cara pengoperasiannya dibanding tahun lalu. “Kader dituntut aktif mendata ibu hamil, proses persalinan, hingga perkembangan balita melalui simulasi aplikasi yang kita lakukan hari ini,” ujar Rahmat. Sebagai panitia, Hasan Habibu (Hasby) menambahkan bahwa KPM adalah aset desa yang harus terus ditingkatkan kapasitasnya. Pendamping desa dan Polri (melalui Bhabinkamtibmas) kini memiliki visi serupa: mendorong masyarakat hidup bersih, menjaga kesehatan, dan memastikan ketersediaan sanitasi layak sebagai benteng utama pencegahan stunting di tingkat akar rumput.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.