Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 21 Mar 2025 22:46 WIB ·

Petani UPT Paya Guci Berjuang di Tengah Keterisolasian, Koperasi Jadi Harapan Baru


					Petani UPT Paya Guci Berjuang di Tengah Keterisolasian, Koperasi Jadi Harapan Baru Perbesar

Pidie, Aceh [DESA MERDEKA] – Di tengah keterbatasan akses jalan yang rusak parah, para petani di UPT Paya Guci, kawasan transmigrasi di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Kawasan dengan potensi perkebunan, pertanian, dan pariwisata ini tengah berjuang menghadapi tantangan infrastruktur yang menghambat kemajuan.

Tim asesmen dari Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, yang dipimpin Devna, menyaksikan langsung perjuangan para petani saat mereka berjalan kaki menggendong dan memikul hasil panen kopi. Bahkan, sepeda motor yang menjadi andalan pun tak mampu melewati jalan yang rusak.

“Harga kopi yang mencapai Rp 60.000 per kilogram memberi harapan, meskipun nilai optimal didapat setelah diolah menjadi beras atau green bean,” ujar Devna, Kamis (20/3/2025).

Sebelumnya, tim asesmen yang didampingi Teuku Faisal, S.Sos (Kabid Transmigrasi Kabupaten Pidie), Bobby (Jabfung. Penggerak Swadaya Masyarakat), dan Erwinsyah (Staf PPID), kesulitan mencapai lokasi karena kondisi jalan. Hal ini memicu wacana pembentukan koperasi sebagai solusi pemasaran kolektif.

“Para petani sering kekurangan modal saat panen raya. Mereka berharap bisa menjual kopi dalam bentuk buah cherry dengan harga lebih baik,” jelas Devna.

Edi Azhari, pengusaha kopi lokal dengan merek H2E, mengungkapkan kendala kekurangan bahan baku akibat sistem pemasaran yang tidak terorganisir. “Kami butuh sistem pemasaran yang lebih baik agar petani mendapat harga yang layak dan modal kerja saat panen,” katanya.

Geuchik Lah, tokoh masyarakat, menegaskan bahwa koperasi adalah solusi strategis. Dengan koperasi, petani dapat menjual hasil panen secara kolektif dengan harga adil dan mendapat dukungan modal untuk pengolahan kopi.

Di tengah keterbatasan, semangat petani UPT Paya Guci di ketinggian 600-1200 mdpl tetap menyala. Dukungan dana APBA diharapkan dapat memperbaiki infrastruktur dan membangun sistem pemasaran koperasi. Potensi pengembangan penangkaran lebah madu juga disambut antusias.

“Pemerintah, masyarakat, dan semua pihak harus bersinergi mewujudkan impian UPT Paya Guci sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan destinasi wisata,” harap Bobby.

Semangat Geuchik Lah dan rekan-rekannya menjadi inspirasi untuk masa depan yang lebih cerah.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pertahankan Ruang Hidup Pesisir, Nagari Ketaping Daulatkan Mitigasi Bencana

9 Agustus 2026 - 18:11 WIB

Tinggalkan Asumsi, RKP Banjararum 2027 Kini Berbasis Data!

9 Agustus 2026 - 15:59 WIB

Musdes Penetapan ID Banjararum2.

Ini, Cara Desa Langlang Pangkas Birokrasi Posyandu Lewat Genggaman

7 Agustus 2026 - 20:10 WIB

sigap melati

Ironi Dana Desa Imbanagara Raya Disunat Pusat 2026

7 Agustus 2026 - 19:48 WIB

Lewat Voli, Warga Fafoe Rawat Kebersamaan Jelang Kemerdekaan

6 Agustus 2026 - 08:56 WIB

Musyawarah Bendungan Lahor: Kemenangan Persatuan Warga Selorejo

6 Agustus 2026 - 07:13 WIB

Trending di KABAR DESA