Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Hamparan air seluas 1,53 hektare itu tampak tenang di bawah langit Kecamatan Singosari. Di tengah genangannya, sebuah makam tua berdiri kukuh menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan warga sekitar. Inilah Embung Lowokjati, sebuah oase di Desa Baturetno, Kabupaten Malang, yang bukan sekadar penampung air, melainkan urat nadi bagi hijau suburnya hamparan padi.
Bagi masyarakat perdesaan, ketahanan pangan bukanlah sekadar angka statistik di atas kertas dinas. Ia adalah kepastian air yang mengalir ke petak-petak sawah saat kemarau mencekik bumi. Sayangnya, musuh tak terlihat bernama sedimentasi perlahan tapi pasti terus menggerus daya tampung embung ini. Ketika lumpur menebal, asa petani ikut mendangkal.
Lebih dari Sekadar Pengairan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Malang Nomor 1 Tahun 2024 tentang RTRW, Embung Lowokjati memegang status strategis lintas wilayah. Kapasitas maksimumnya yang mencapai 38.277 meter kubik menjadi tumpuan utama irigasi bagi 60 hektare sawah di Desa Baturetno dan Desa Dengkol.
Namun, fungsi Lowokjati tidak berhenti di batas pematang sawah. Saban sore, tempat ini berubah menjadi ruang sosial yang hidup. Ada warga yang datang melempar umpan pancing, anak-anak yang melepas tawa di ruang rekreasi, hingga para pesepeda yang menikmati rute sore desa.
Ironisnya, keindahan ini menyimpan kecemasan tahunan. Setiap musim kemarau tiba, volume air menyusut drastis akibat tumpukan sedimen. Aliran irigasi mengecil, memaksa petani bertaruh dengan nasib demi mempertahankan produktivitas lahan yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.

Mengubah Paradigma, Menghentikan Lumpur
Selama ini, rumus baku yang digunakan untuk menyelamatkan embung adalah normalisasi lewat pengerukan berkala. Namun, cara ini ibarat mengobati gejala tanpa menyembuhkan penyakitnya. Anggaran daerah habis dikuras untuk mengeruk lumpur yang beberapa bulan kemudian akan kembali datang memenuhi dasar embung.
Embung Lowokjati terikat dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, sehingga setiap langkah teknisnya mengacu pada evaluasi batimetri. Sadar bahwa pengerukan saja tidak akan pernah cukup, Pemerintah Desa Baturetno mulai menawarkan paradigma baru: menghentikan laju sedimentasi sejak dari pintu masuk.
Gagasan segar yang kini menggelinding adalah pembangunan kolam pengendap sedimen (sediment trap) tepat sebelum air memasuki badan utama embung. Logikanya sederhana namun presisi: biarkan material lumpur dan pasir terjebak di kolam penyaring, sehingga hanya air relatif bersih yang melenggang masuk ke dalam embung.
Langkah taktis ini tidak hanya memperpanjang umur layanan embung, tetapi juga menyelamatkan anggaran jangka panjang dari lingkaran setan proyek pengerukan yang berulang. Efisiensi ini kemudian bisa dialihkan untuk konservasi hulu melalui penghijauan tangkapan air dan pengendalian erosi tanah desa.

Investasi Masa Depan Pertanian Rakyat
Jika gagasan revitalisasi komprehensif ini terwujud, dampak dominonya akan mengubah wajah ekonomi desa. Ketersediaan air yang stabil sepanjang tahun membuka peluang emas bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam—dari yang semula hanya satu atau dua musim, menjadi tiga musim tanam dalam setahun. Sawah terus berproduksi, dapur petani tetap mengepul, dan lumbung pangan desa kian kokoh.
Di sisi lain, potensi ekonomi alternatif juga menanti untuk dipanen. Embung yang bersih dan tertata rapi dapat dikembangkan menjadi pusat budidaya perikanan air tawar lokal, ekowisata berbasis olahraga (gowes), hingga ruang terbuka hijau edukatif bagi generasi muda.
Kolaborasi Berbasis Data dari Akar Rumput
Langkah maju Desa Baturetno ini bukan bualan tanpa dasar. Visi ini berjalan beriringan dengan arah kebijakan nasional. Sebut saja Permendesa PDT Nomor 13 Tahun 2025 yang menekankan akurasi Pembangunan Berbasis Data melalui Sistem Informasi Desa, serta Permendesa PDT Nomor 16 Tahun 2025 yang memprioritaskan ketahanan pangan di tingkat desa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan kita semua bahwa 43 persen penduduk negeri ini bermukim di perdesaan, dan mayoritas menggantungkan hidup pada sektor agraris. Fakta ini menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional tidak melulu soal megaproyek bendungan besar, melainkan juga tentang bagaimana kita merawat ribuan embung desa yang bersentuhan langsung dengan sawah rakyat.
Kini, masa depan Embung Lowokjati menanti uluran tangan kolektif. Dibutuhkan kerja sama erat dan sinergi tanpa sekat antara BBWS Brantas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemkab Malang, pemerintah desa, akademisi, hingga komitmen masyarakat lokal.
Revitalisasi Embung Lowokjati bukan lagi sekadar urusan proyek fisik berupa semen dan batu. Ini adalah manifesto investasi jangka panjang untuk merawat ketersediaan air, melindungi peluh petani, dan membuktikan bahwa kedaulatan pangan sejati Indonesia sejatinya bermula dari ketangguhan sebuah desa.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.