Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 15 Jan 2026 19:52 WIB ·

Peristiwa Situjuah: Alarm Sejarah Tentang Persatuan dan Bahaya Pengkhianatan


					Peristiwa Situjuah: Alarm Sejarah Tentang Persatuan dan Bahaya Pengkhianatan Perbesar

Limapuluh Kota, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sejarah sering kali terjebak dalam angka dan tanggal, namun Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman, mengajak kita melihat sisi yang lebih manusiawi sekaligus getir dari Peristiwa Situjuah. Pada peringatan ke-77 yang digelar di Lapangan Khatib Sulaiman, Kamis (15/1/2026), Evi menegaskan bahwa Situjuah adalah pengingat keras tentang bagaimana sebuah pengkhianatan mampu melumpuhkan perjuangan besar.

Peristiwa Situjuah yang terjadi pada 15 Januari 1949 bukan sekadar catatan kaki dalam agresi militer Belanda. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari napas Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Namun, di balik heroisme para pejuang yang gugur, ada pelajaran kelam tentang celah keamanan dan hancurnya kebersamaan akibat pengkhianat yang membuka jalan bagi musuh.

Lebih dari Sekadar Upacara Tahunan
“Peristiwa Situjuah mengajarkan betapa pengkhianatan bisa berdampak amat besar. Demi bangsa, sangat penting menjaga kebersamaan dalam perjuangan agar tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan,” ujar Evi Yandri. Menurutnya, wafatnya para pejuang dalam peristiwa tersebut adalah bukti nyata bahwa semangat yang tidak dijaga dengan persatuan akan mudah dipatahkan.

Secara filosofis, Evi mengaitkan semangat “Jas Merah” (Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah) bukan hanya sebagai jargon, melainkan sebagai kompas nasionalisme. Mengingat Situjuah berarti mengambil inspirasi dari rangkaian panjang terbentuknya PDRI (Desember 1948 – Juli 1949). Ini adalah momen di mana Sumatera Barat menjadi tulang punggung penyelamat kedaulatan Indonesia saat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Menjadikan Luka sebagai Inspirasi
DPRD Sumbar mendorong agar peringatan ini tidak berhenti pada seremoni di lapangan. Ada nilai Bela Negara yang harus diwariskan kepada generasi muda. Evi mengajak masyarakat menggali kembali semangat kesatuan yang pernah ada di Situjuah Batua untuk menghadapi tantangan zaman modern.

“Kita tidak boleh melupakan pengorbanan nyawa yang terjadi. Peristiwa ini adalah kontribusi besar Sumbar bagi eksistensi Republik. Menghargai sejarah berarti memastikan nilai persatuan tersebut tetap hidup dalam praktik berbangsa kita saat ini,” pungkasnya.

Peringatan ke-77 ini menjadi momentum refleksi: bahwa musuh dari luar mungkin kuat, namun kehancuran yang dipicu dari dalam melalui pengkhianatan jauh lebih mematikan. Situjuah adalah monumen abadi untuk terus waspada dan bersatu.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pasir Pantai Merah Putih Obi Dikeruk Ilegal, APH dan Pemda Didesak Bertindak

3 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Bertahan di Ruas Kaputusan: Nestapa dan Resiliensi Warga

29 September 2026 - 16:06 WIB

Siasat Ekspor Mikro: Berhenti Berteori, Saatnya Menyambung Titik Cuan Desa

20 September 2026 - 16:09 WIB

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Ketika Mesin Digugat: Palagan Manusia di Pilkades Bantarjaya

17 September 2026 - 13:44 WIB

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

Trending di RAGAM