Sabang, Aceh [DESA MERDEKA] – Kota Sabang baru saja meresmikan “asuransi” ekologi masa depan melalui peluncuran Kawasan Ekowisata Penyu Ie Meulee di Pantai Keramat, Jumat (23/1/2026). Langkah ini bukan sekadar seremoni wisata biasa, melainkan upaya radikal untuk mengunci komitmen pelestarian Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang keberadaannya kian kritis di dunia.
Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, menegaskan bahwa Ie Meulee akan menjadi benteng pertahanan bagi satwa langka tersebut. Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah daerah berencana membatasi pembangunan fisik yang berpotensi merusak garis pantai dan mengganggu insting bertelur penyu.
“Penyu sisik adalah aset langka. Kami akan memperkuat perlindungan habitat ini melalui regulasi Peraturan Wali Kota dan penguatan qanun agar kawasan konservasi, edukasi, dan wisata ramah lingkungan ini berjalan maksimal,” ujar Zulkifli.
Pesan Botani dari Pohon Pandan
Sudut pandang menarik muncul dari sisi ekologis yang selama ini sering terabaikan: keberadaan pohon pandan laut. Marzuki, Pendamping Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Ie Meulee, mengingatkan bahwa kelestarian penyu bergantung pada rimbunnya pandan di Pantai Keramat. Tanpa pohon-pohon ini, siklus hidup penyu bisa terputus total.
“Secara ilmiah, penyu memiliki memori biologis. Mereka akan kembali ke pantai tempat mereka menetas sekitar 25 tahun kemudian untuk bertelur. Jika hari ini kita melepas 82 tukik, kita sebenarnya sedang menitipkan pesan kepada alam agar mereka kembali ke Sabang pada tahun 2051 nanti,” jelas Marzuki.
Edukasi Dini dan Deklarasi Bersama
Dalam peluncuran ini, keterlibatan siswa SD Negeri 5 dan TK Negeri 7 Sabang menjadi sorotan. Mengajak anak-anak melepas tukik dianggap sebagai metode edukasi paling efektif untuk membangun rasa kepemilikan terhadap laut sejak dini.
Pemerintah Kota Sabang juga mengarahkan pemanfaatan anggaran gampong (desa) khusus untuk mendukung operasional perlindungan habitat, termasuk rencana pembangunan fasilitas penangkaran, pos pantau, dan patroli rutin. Acara ditutup dengan penandatanganan Deklarasi Ie Meulee oleh jajaran Forkopimda sebagai sumpah bersama menjaga Pantai Keramat dari segala bentuk perusakan lingkungan.
Melalui ekowisata ini, Sabang tidak hanya menjual keindahan pantai, tetapi juga menjual harapan bahwa seperempat abad dari sekarang, anak cucu mereka masih bisa menyaksikan sang pengembara samudra pulang ke rumahnya di Ie Meulee.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.