Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

JALAN JAJAN · 25 Jan 2026 18:45 WIB ·

Penyu Sisik Ie Meulee: Investasi Alam Sabang untuk 2051


					Peresmian perdana yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, di Pantai Keramat Ie Meulee, dirangkai dengan edukasi lingkungan serta pelepasan tukik. Foto. Ist Perbesar

Peresmian perdana yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, di Pantai Keramat Ie Meulee, dirangkai dengan edukasi lingkungan serta pelepasan tukik. Foto. Ist

Sabang, Aceh [DESA MERDEKA] Kota Sabang baru saja meresmikan “asuransi” ekologi masa depan melalui peluncuran Kawasan Ekowisata Penyu Ie Meulee di Pantai Keramat, Jumat (23/1/2026). Langkah ini bukan sekadar seremoni wisata biasa, melainkan upaya radikal untuk mengunci komitmen pelestarian Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang keberadaannya kian kritis di dunia.

Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, menegaskan bahwa Ie Meulee akan menjadi benteng pertahanan bagi satwa langka tersebut. Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah daerah berencana membatasi pembangunan fisik yang berpotensi merusak garis pantai dan mengganggu insting bertelur penyu.

“Penyu sisik adalah aset langka. Kami akan memperkuat perlindungan habitat ini melalui regulasi Peraturan Wali Kota dan penguatan qanun agar kawasan konservasi, edukasi, dan wisata ramah lingkungan ini berjalan maksimal,” ujar Zulkifli.

Pesan Botani dari Pohon Pandan
Sudut pandang menarik muncul dari sisi ekologis yang selama ini sering terabaikan: keberadaan pohon pandan laut. Marzuki, Pendamping Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Ie Meulee, mengingatkan bahwa kelestarian penyu bergantung pada rimbunnya pandan di Pantai Keramat. Tanpa pohon-pohon ini, siklus hidup penyu bisa terputus total.

“Secara ilmiah, penyu memiliki memori biologis. Mereka akan kembali ke pantai tempat mereka menetas sekitar 25 tahun kemudian untuk bertelur. Jika hari ini kita melepas 82 tukik, kita sebenarnya sedang menitipkan pesan kepada alam agar mereka kembali ke Sabang pada tahun 2051 nanti,” jelas Marzuki.

Edukasi Dini dan Deklarasi Bersama
Dalam peluncuran ini, keterlibatan siswa SD Negeri 5 dan TK Negeri 7 Sabang menjadi sorotan. Mengajak anak-anak melepas tukik dianggap sebagai metode edukasi paling efektif untuk membangun rasa kepemilikan terhadap laut sejak dini.

Pemerintah Kota Sabang juga mengarahkan pemanfaatan anggaran gampong (desa) khusus untuk mendukung operasional perlindungan habitat, termasuk rencana pembangunan fasilitas penangkaran, pos pantau, dan patroli rutin. Acara ditutup dengan penandatanganan Deklarasi Ie Meulee oleh jajaran Forkopimda sebagai sumpah bersama menjaga Pantai Keramat dari segala bentuk perusakan lingkungan.

Melalui ekowisata ini, Sabang tidak hanya menjual keindahan pantai, tetapi juga menjual harapan bahwa seperempat abad dari sekarang, anak cucu mereka masih bisa menyaksikan sang pengembara samudra pulang ke rumahnya di Ie Meulee.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bikers Senior Dedengkot Brothers Hidupkan Wisata Sejarah Bedono

27 Agustus 2026 - 15:52 WIB

Wisata Heritage Ambarawa Jadi Magnet Baru Ekonomi Desa

27 Juli 2026 - 19:37 WIB

Nagari Anduriang Siap Jadi Destinasi Wisata Halal Unggulan

15 Juni 2026 - 08:54 WIB

Pasar Kampung Samiler: Branding Unik Desa Wisata Wonosunyo

15 Juni 2026 - 07:42 WIB

Satu Abad Jam Gadang, Momen Kebangkitan Wisata Minang

30 Mei 2026 - 05:43 WIB

Paket Wisata Hotel Mewah Wajib Gandeng Desa Wisata

17 Mei 2026 - 21:31 WIB

Trending di JALAN JAJAN