Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

DESA · 26 Feb 2025 05:15 WIB ·

Pendamping Desa: Kunci Sukses Hubungkan Kebijakan ke Rakyat


					<em>Tangkapan layar SKPM IPB TV, dalam acara Bedah Buku- Perubahan Sosial & Masa Depan Nelayan Indonesia</em> Perbesar

Tangkapan layar SKPM IPB TV, dalam acara Bedah Buku- Perubahan Sosial & Masa Depan Nelayan Indonesia

Jakarta [DESA MERDEKA] Pembangunan desa dan wilayah pesisir di Indonesia sering kali terjebak dalam kebijakan nasional yang seragam, namun gagal mendarat di realitas masyarakat. Ivanovich Agusta, sosiolog pedesaan dari IPB University, menegaskan bahwa mata rantai yang hilang ini hanya bisa disambung oleh sosok pendamping atau kader pembangunan komunitas yang kompeten.

Dalam diskusi buku “Perubahan Sosial dan Masa Depan Nelayan Indonesia” di Jakarta (25/2/2025), Ivanovich menekankan pentingnya pendekatan Teori Meso. Pendekatan ini memandang bahwa pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan instruksi dari pusat (makro), tetapi butuh “manajer komunitas” di tingkat lokal (mikro) yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi aksi nyata.

Pendamping Sebagai Diagnosa dan Motivator
Peran pendamping desa jauh melampaui sekadar administrasi. Mereka adalah “dokter sosial” yang bertugas mendiagnosis masalah unik di setiap desa, merumuskan solusi spesifik, hingga menjaga api motivasi masyarakat agar tidak padam di tengah jalan. Tanpa kehadiran pendamping, program pemerintah sering kali hanya menjadi proyek fisik tanpa jiwa pemberdayaan.

“Jika kita ingin membangun desa dengan benar, keberadaan kader, pendamping, atau manajer pengembangan komunitas di setiap level adalah keharusan,” tegas Ivanovich.

Pentingnya Jaringan ‘Orang Dalam’ bagi Nelayan
Selain faktor pendampingan, narasi menarik lainnya adalah strategi gerakan sosial. Ivanovich menyoroti bahwa perjuangan kelompok nelayan atau petani tidak akan membuahkan hasil jika hanya bergerak di lingkaran bawah. Perubahan sosial memerlukan jaringan yang menembus batas kelas.

Gerakan sosial yang efektif membutuhkan dukungan dari golongan menengah dan atas untuk membuka akses komunikasi. Aspirasi nelayan yang disuarakan melalui demonstrasi di jalanan akan jauh lebih berdaya jika didukung oleh jaringan yang mampu menembus meja menteri hingga audiensi dengan presiden.

Masa Depan Masyarakat Pesisir
Diskusi yang membedah karya sosiolog IPB, Rilus A. Kinseng, ini menyimpulkan bahwa masa depan nelayan Indonesia bergantung pada dua hal utama: penguatan pemberdayaan di tingkat komunitas (meso) dan kemampuan mereka membangun aliansi strategis dengan pihak-pihak berpengaruh. Dengan sinergi ini, kelompok masyarakat bawah tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang aspirasinya benar-benar didengar dan diakomodasi oleh negara.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bukan Proyek Fisik, Toyomarto Alokasikan Dana Desa Berbasis Bukti

20 Juli 2026 - 21:35 WIB

Aparatur Baru Sumber Jaya Pacu Akselerasi Pembangunan Desa

20 Juli 2026 - 20:03 WIB

Tiga BUMDesa Sragen Raih Penghargaan Samsat Budiman

20 Juli 2026 - 14:18 WIB

Penyerahan Piagam Penghargaan Transaksi Samsat Budiman dan Pemenang Hadiah Pajak Kendaraan

Ngadipiro Kepung Masalah Stunting Hingga Rumah Sehat

16 Juli 2026 - 15:27 WIB

Asa Ketahanan Pangan dari Revitalisasi Embung Lowokjati

16 Juli 2026 - 14:27 WIB

Revitalisasi Embung Lowokjati

Desa Wisata Guranjhil Gandeng PNP Garap Promosi Bilingual

15 Juli 2026 - 13:42 WIB

Trending di DESA